Sampah Rumah Tangga Jangan Berakhir di Sungai, Warga Keparakan Diajak Olah dari Rumah

Media Digital
Media Digital Sabtu, 26 September 2026 14:38 WIB
Sampah Rumah Tangga Jangan Berakhir di Sungai, Warga Keparakan Diajak Olah dari Rumah

Warga Keparakan berfoto bersama saat kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Terpadu dan Optimalisasi Pemasaran Produk Bank Sampah di Kampung Keparakan Lor yang digelar FKPDAS DIY, Sabtu (26/9/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA — Sampah dari rumah yang dibuang sembarangan bisa menempuh perjalanan panjang hingga berakhir di sungai. Karena itu, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga dinilai menjadi salah satu kunci agar sungai di Kota Jogja tidak terus-menerus menjadi tempat pelarian sampah.


Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) DIY, Masrur Alatas mengatakan persoalan sungai tidak bisa hanya diselesaikan dengan membersihkan sungai. Sampah perlu dicegah sejak dari rumah sebelum terbawa hujan masuk ke selokan, drainase, lalu menuju sungai.


"Kalau saya tidak membuang sampah, terus saya harus membuang ke mana? Nah, sehingga kita harus segera memberikan solusi," kata Masrur saat Sosialisasi Pengelolaan Sampah Terpadu dan Optimalisasi Pemasaran Produk Bank Sampah di Kampung Keparakan Lor, Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Kota Jogja, Sabtu (26/9/2026).


Menurut dia, sampah organik dari rumah bisa diolah menggunakan komposter maupun metode mikrobio jogangan atau mijongan. Metode tersebut berupa lubang pengolahan sampah organik berukuran sekitar 35 sentimeter x 35 sentimeter dengan kedalaman 1 meter.


Masrur menyebut mijongan bisa menjadi pilihan bagi rumah tangga di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Biayanya juga relatif lebih murah dibandingkan komposter, yakni sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000.


"Pokoknya yang organik semua jangan dibuang ke sungai, jangan dibuang ke lingkungan. Masukkan ke situ untuk jadi pupuk kompos," ujarnya.


Dia menilai upaya mengurangi sampah di sungai harus dimulai dengan membangun pemahaman masyarakat. Masrur menyebut prosesnya tidak bisa langsung menuntut warga sadar, tetapi perlu dimulai dari sosialisasi, pemahaman, kesadaran, aksi nyata, hingga gotong royong.


"Kesadaran berjamaah itu jauh lebih hebat daripada kesadaran pribadi. Jadi kalau boleh saya bilang, kesadaran kolektif itu penting banget," katanya.


Di Keparakan Lor, pengelolaan sampah juga mulai menghasilkan berbagai produk kerajinan. Hasil kerajinan dari sampah anorganik pun turut ditampilkan saat Sosialisasi Pengelolaan Sampah Terpadu tersebut. Hasil kerajinan tersebut berupa tas, tikar, hingga pakaian yang terbuat dari limbah anorganik.


Wakil Ketua Forum Bank Sampah Kota Jogja, Sri Martini yang menjadi narasumber dalam sosialisasi tersebut mengatakan sejumlah sampah plastik seperti bungkus kopi dan kemasan makanan yang biasanya menjadi residu bisa diolah kembali menjadi barang yang dapat digunakan sehari-hari.


"Kalau dibikin kerajinan, otomatis akan mengurangi pembuangan, dikelola dengan baik, dan bisa meningkatkan nilai perekonomian untuk masyarakat," kata Sri.


Selain kerajinan, warga Keparakan telah menggunakan sejumlah metode untuk mengolah sampah organik, seperti biopori, losida, ember tumpuk, dan komposter. Menurut Sri, pengolahan sampah organik menjadi tantangan tersendiri karena belum seluruh warga terbiasa melakukannya.


Sri berharap pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga akhirnya menjadi kebiasaan sehari-hari. Dengan begitu, sampah tidak hanya dipindahkan dari rumah ke tempat lain, tetapi benar-benar diolah sejak dari sumbernya.


Masrur mengatakan langkah tersebut juga berkaitan langsung dengan kondisi sungai. Sebab, ketika sampah dari rumah tidak lagi masuk ke saluran air, beban pencemaran sungai ikut berkurang dan energi masyarakat untuk membersihkan sungai tidak terus habis untuk menangani sampah yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online