Tak Sekadar Gowes, Amazing Race Ajak Peserta Kenali Sumbu Filosofi Jogja
Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage
Pesepeda memeriahkan Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage Festival 2026 di Jalan Malioboro, Selasa (29/9/2026) malam. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
JOGJA—Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage Festival 2026, Selasa (29/9/2026).
Peserta tidak sekadar beradu cepat, tetapi juga memecahkan kuis yang berkaitan dengan Sumbu Filosofi di sepanjang rute yang mengelilingi kawasan tersebut. Kegiatan ini dirancang untuk mengajak masyarakat mengenal nilai Sumbu Filosofi melalui aktivitas yang lebih dekat dengan keseharian.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan konsep tersebut dibuat agar nilai Sumbu Filosofi tidak berhenti sebagai pengetahuan yang berat untuk dipahami. Filosofi tersebut coba didekatkan dengan aktivitas sehari-hari melalui kegiatan yang lebih mudah diikuti masyarakat.
“Kita mencoba festival kali ini tidak hanya membawa satu filosofi-filosofi yang mungkin cukup berat untuk dipahami, tetapi kita ingin mencoba mempraktikkan bagaimana filosofi itu menjadi bagian dari keseharian kita semua,” kata Dian.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan tema Jogja World Heritage Festival tahun ini, yakni Living Heritage: Inspiring the Future. Amazing Race “Ngepit Jeron Benteng” sendiri telah memasuki pelaksanaan tahun ketiga.
Dian mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi antarkelompok yang bersepeda dan menyelesaikan sejumlah pertanyaan. Peserta juga diajak mengenali kawasan Sumbu Filosofi secara langsung selama mengikuti rute.
“Ini tidak hanya sekadar lomba atau berkompetisi antargrup dengan sepeda dan kemudian memecahkan kuis-kuis di sepanjang Sumbu Filosofi, tapi ini bagian dari penguatan Sumbu Filosofi,” ujarnya.
Jogja World Heritage Festival 2026 menjadi puncak sekaligus penutupan rangkaian Bulan Warisan Dunia DIY yang telah berlangsung sejak Juli. Festival digelar di kawasan Malioboro dan terhubung dengan sejumlah kegiatan seni di sekitar kawasan tersebut.
Dian menjelaskan rangkaian kegiatan malam itu dimulai dari area depan Gedung DPRD DIY, kemudian terhubung dengan pentas budaya Selasa Wagen di pintu gerbang barat Kepatihan. Pengunjung juga dapat melanjutkan perjalanan menuju Teras Malioboro Beskalan untuk menyaksikan pentas seni dari kelurahan dan kalurahan budaya se-DIY.
Rangkaian tersebut berlanjut ke kawasan utara hingga Museum Sonobudoyo yang juga menggelar pentas Selasa Wagen. Dengan demikian, kegiatan tidak terpusat di satu titik, tetapi mengajak pengunjung berjalan menyusuri sejumlah ruang budaya di kawasan Malioboro.
Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF), Aryanto Hendro Suprantoro, mengatakan festival tahun ini juga menghadirkan sejumlah komunitas dan karya yang berkaitan dengan Sumbu Filosofi. Salah satunya Kampung Wisata Kasaningrat dari Cokrodiningratan yang memperkenalkan paket wisata Sumbu Filosofi.
Paket tersebut akan membawa wisatawan mengenali kawasan sekaligus memahami makna yang ada di balik Sumbu Filosofi. Selain itu, UGM bersama ISI Yogyakarta turut menghadirkan permainan yang mengangkat nilai filosofi Sumbu Filosofi.
Ada pula komunitas Ecocraft yang memberikan pengalaman membuat kerajinan kepada pengunjung. Aryanto menyebut kegiatan komunitas tersebut nantinya juga dapat ditemui setiap Selasa Wage di sekitar kawasan Titik 0 Kilometer Jogja.
Layanan andong dan becak wisata juga disiapkan untuk mendukung aktivitas wisata di kawasan Sumbu Filosofi. Ke depan, moda transportasi tersebut akan dikemas dalam paket perjalanan yang tidak sekadar mengantar wisatawan, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai kawasan dan atribut yang berada di sepanjang Sumbu Filosofi.
Aryanto mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan tiga tahun penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Ia berharap masyarakat tidak hanya mengenal status tersebut, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage
Bupati Gunungkidul memberi ASN waktu 1,5 jam tiap Jumat awal bulan untuk belanja di pasar tradisional dan UMKM.
inflasi September 2026 diproyeksi mencapai 3,34%-3,35%, dipicu pangan, El Nino, MBG, dan kenaikan harga minyak dunia.
Delapan gerai KDMP Bantul telah diverifikasi. Hasil pemeriksaan akan menjadi bahan laporan tim dan review BPKP terkait pembangunan.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai beroperasi 1 Oktober 2026 dan akan dievaluasi pemerintah pada 7 Oktober.
UGM menilai wacana kuliah gratis perlu memprioritaskan warga kurang mampu dan memperluas akses pendidikan tinggi.