Devie Fransisca Ingin Batik Enom Dekat dengan Keseharian
Sembilan tahun Batik Enom, Devie Fransisca membuktikan batik bisa menjadi pakaian sehari-hari melalui inovasi warna, desain, hingga jersey batik.
Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, Ketua DPRD DIY, Nuryadi dan Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan saat meninjau dan memberikan hadiah dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman di JAP Nanggulan, Jumat (2/10/2026)/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi DIY menggelar Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman selama dua hari di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan, Kulonprogo, Jumat (2/10/2026) dan Sabtu (3/10/2026).
Mengusung tema “Lumbung Mataraman Pendukung Swasembada Pangan Melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas”, kegiatan tahunan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah memperkuat ketahanan pangan masyarakat di tengah keterbatasan lahan.
Sebanyak 10 kalurahan yang memiliki Lumbung Mataraman turut ambil bagian. Selain itu, ada 15 peserta dari Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga total terdapat 25 stan dalam kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, pendidikan, teknologi, pelaku usaha, komunitas petani, dan kalurahan.
Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan Lumbung Mataraman tidak hanya ditujukan sebagai ajang pameran. Program tersebut juga menjadi pengingat sekaligus penggerak kemandirian pangan daerah dengan mengandalkan potensi lokal.
Menurut Aris, program itu turut mengimplementasikan filosofi tradisional Jawa, “nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur” atau menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam.
"Salah satu tantangan utama pembangunan pertanian saat ini adalah semakin terbatasnya lahan, oleh karena itu, kami mendorong inovasi pemanfaatan lahan pekarangan agar masyarakat dapat mengoptimalkan ruang terbatas yang ada dengan maksimal dan kreatif," katanya kepada wartawan di JAP Nanggulan, Jumat (2/10/2026).
Lumbung Mataraman Antisipasi Krisis Pangan
Aris menjelaskan Lumbung Mataraman juga diarahkan untuk memperkuat produksi sekaligus konsumsi pangan lokal yang sehat. Program tersebut diproyeksikan menjadi langkah konkret untuk mengantisipasi ancaman kelangkaan dan krisis pangan pada masa mendatang.
Meski saat ini masih dimodelkan dalam skala terbatas, intervensi yang berbasis Dana Keistimewaan (Danais) itu telah memberikan dampak langsung bagi masyarakat di kalurahan penerima manfaat.
Ke depan, pemanfaatan lahan tidak hanya mengandalkan Tanah Kasultanan (Sultan Ground) atau Kadipaten (Pakualaman Ground). Pemerintah juga mendorong optimalisasi tanah milik masyarakat yang belum tergarap.
"Program ini menerapkan konsep integrated farming. Tidak hanya melibatkan generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin untuk terlibat aktif meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka," terang Aris.
JAP Nanggulan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena kawasan tersebut telah disiapkan sejak tujuh tahun lalu untuk menjadi bagian dari Aeropolis sekaligus menjadi ikon tempat penyelenggaraan event tahunan pertanian DIY.
Demplot Jadi Ruang Belajar Petani
Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan bahwa ketahanan pangan sejati dimulai dari ruang terdekat masyarakat.
Pekarangan rumah dan lahan kelompok tani, menurutnya, dapat menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan pangan. Pengembangan komoditas juga perlu disesuaikan dengan karakteristik serta keunggulan masing-masing wilayah.
"Tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama, tidak semua kelompok harus menggunakan pola yang sama. Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan," ungkap Noviar Rahmad saat membacakan arahan Gubernur DIY.
Noviar juga menyoroti keberadaan lahan demonstration plot (demplot) yang dapat menjadi ruang belajar bersama bagi petani dan penyuluh. Melalui demplot, teknologi pertanian modern dipadukan dengan kearifan lokal untuk menguji pola budidaya, pengelolaan air, pemupukan, hingga integrasi pertanian terpadu yang mencakup tanaman, ternak, dan perikanan.
"Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup—hidup di pekarangan keluarga, di kelompok tani, dan dalam pengetahuan masyarakat bahwa tanah yang dikelola dengan ketekunan serta kebersamaan akan selalu memberi kehidupan," jelasnya.
Kulonprogo Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, menilai konsep Lumbung Mataraman memiliki peran penting dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan yang berbasis potensi lokal.
Menurutnya, pembangunan pangan tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah produksi. Aspek kepastian aksesibilitas, keamanan pangan, serta kualitas gizi masyarakat juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
"Swasembada pangan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menghasilkan pangan dalam jumlah yang cukup. Lebih dari itu, kita perlu memastikan pangan tersedia secara berkelanjutan, memiliki kualitas yang lebih baik, aman dikonsumsi, serta dapat diakses oleh seluruh masyarakat," ujar Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sembilan tahun Batik Enom, Devie Fransisca membuktikan batik bisa menjadi pakaian sehari-hari melalui inovasi warna, desain, hingga jersey batik.
Bea Cukai Soetta menggagalkan penyelundupan 5,226 kg etomidate oleh lima WN Malaysia yang disembunyikan di sol sepatu.
Influenza A belum ditemukan di Bantul hingga 1 Oktober. Dinkes mengingatkan warga memperkuat PHBS dan menjaga daya tahan tubuh.
Arie Sujito menilai reshuffle kabinet Prabowo harus menjawab problem dan harapan publik, bukan justru memunculkan teka-teki baru.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.