Candi Ijo Jadi Ruang Perjumpaan Batik, Wastra dan Heritage

Media Digital
Media Digital Senin, 05 Oktober 2026 14:22 WIB
Candi Ijo Jadi Ruang Perjumpaan Batik, Wastra dan Heritage

Candi Ijo menjadi ruang perjumpaan batik, wastra, sejarah dan masyarakat lewat “Sehari di Candi” pada Hari Batik Nasional. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Candi Ijo tidak hanya menjadi latar perjalanan wisata dalam agenda “Sehari di Candi: Celebrating Batik, Living the Heritage”. Pada Sabtu (3/10), kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara batik, wastra, sejarah, dan masyarakat melalui rangkaian aktivitas yang berlangsung sejak siang hingga matahari terbenam.

Agenda yang digelar Remen Jawi bersama Batik Enom dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional itu mengajak peserta mengalami budaya secara langsung. Pengalaman tidak berhenti pada mengenal nama kain atau motif batik, tetapi juga mencakup mengenakan kain, mendengarkan cerita, mencoba proses membatik, hingga bertemu dengan orang-orang yang berada di balik warisan budaya.

Gagasan tersebut menjadi dasar perjalanan “Sehari di Candi”, yakni mempertemukan peserta dengan budaya melalui pengalaman yang bersifat langsung dan partisipatif.

Dari Berkain hingga Mengenal Candi Ijo

Rangkaian kegiatan dimulai melalui Sugeng Rawuh Moment. Setibanya di Candi Ijo, peserta mengikuti sesi styling berkain yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan mereka sepanjang acara.

Perjalanan dilanjutkan dengan Sesi Wastra & Batik Nusantara. Peserta diperkenalkan pada berbagai cerita di balik wastra dan batik Nusantara sekaligus hubungan kain dengan identitas budaya masyarakat.

Setelah itu, peserta mengikuti Telusur Candi & Kisah di Baliknya. Bersama Pemuda Desa Sambirejo, mereka mengenal Candi Ijo sekaligus mendengarkan cerita mengenai kawasan dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Keterlibatan masyarakat lokal memberikan perspektif bahwa situs heritage tidak berdiri sendiri. Candi Ijo berada di tengah ruang hidup yang terus digunakan dan berkembang oleh masyarakat.

Belajar Membatik Bersama Panti Asuhan Bina Siwi

Pengalaman budaya kemudian berlanjut melalui Sesi Membatik bersama Panti Asuhan Bina Siwi yang menghadirkan teman-teman disabilitas.

Pada sesi ini, peserta tidak hanya mengenal batik secara konseptual, tetapi juga mencoba proses membatik secara langsung. Interaksi dengan teman-teman dari Panti Asuhan Bina Siwi menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Kegiatan membatik sekaligus membawa kontribusi sosial dalam penyelenggaraan acara. Sebanyak 15 persen dari setiap tiket yang terjual didonasikan kepada Panti Asuhan Bina Siwi.

Dengan demikian, keterlibatan peserta dalam “Sehari di Candi” turut memberikan dukungan dan bentuk terimakasih kepada Panti Asuhan Bina Siwi sebagai kolaborator agenda.

Menutup Perjalanan dengan Sunset

Memasuki sore hari, rangkaian acara beralih ke suasana yang lebih tenang melalui Wellness & Mindful Sunset. Setelah mengikuti berbagai aktivitas, peserta diajak memperlambat ritme dan menikmati perubahan suasana Candi Ijo menjelang matahari terbenam.

Sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk beristirahat, melakukan refleksi, sekaligus memaknai kembali pengalaman yang telah dilalui sepanjang perjalanan.

Seluruh rangkaian kemudian ditutup melalui Matur Nuwun Moment. Penutupan ini menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan sekaligus mengakhiri perjumpaan peserta dengan Candi Ijo dan seluruh pihak yang terlibat.

Heritage yang Terhubung dengan Masyarakat

Pemilihan Candi Ijo sebagai lokasi turut memperkuat konsep “Sehari di Candi”. Berada di kawasan Sambirejo, Candi Ijo menawarkan pertemuan antara warisan arkeologis, lanskap Yogyakarta, dan kehidupan masyarakat lokal.

Melalui keterlibatan Pemuda Desa Sambirejo, acara berusaha memperluas cara pandang terhadap heritage. Situs bersejarah tidak hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari ruang yang masih memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Dalam pelaksanaannya, Remen Jawi berperan sebagai penyelenggara sekaligus pengelola konsep dan pengalaman acara, mulai dari kurasi perjalanan, storytelling, hospitality, hingga produksi.

Sementara itu, Enom berkolaborasi dalam menghadirkan pengalaman yang berkaitan dengan batik dan wastra. Dalam sesi mindful experience, peserta ditemani oleh Coach Wellness Padma Sanjaa.

Panti Asuhan Bina Siwi dan Kelurahan Sambirejo juga menjadi bagian dari keterlibatan komunitas dalam acara.

Membawa Batik Lebih Dekat dengan Keseharian

Dalam kolaborasi tersebut, Batik Enom membawa perspektif mengenai batik dan wastra sebagai bagian dari kehidupan serta identitas budaya yang terus berkembang.

Melalui pengalaman berkain, pengenalan wastra, dan sesi storytelling mengenai batik Nusantara, Batik Enom mengajak peserta melihat batik tidak hanya sebagai kain atau motif. Batik juga diposisikan sebagai bagian dari cerita, proses, dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keterlibatan Batik Enom dalam “Sehari di Candi” sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan batik dalam pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian.

Pertemuan antara batik, ruang heritage Candi Ijo, dan interaksi bersama masyarakat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai wastra kepada peserta melalui pengalaman yang langsung, personal, dan partisipatif.

Penyelenggaraan “Sehari di Candi” mendapat dukungan dari Kanca Budaya dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, serta berbagai mitra dari bidang kesehatan, kecantikan, lifestyle, kuliner, florist, dan ekonomi kreatif. Visiting Jogja turut berperan sebagai media partner dalam kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan ini, Remen Jawi dan Enom mempertemukan sejumlah pengalaman yang kerap berjalan secara terpisah, mulai dari mengenakan kain, mengenal sejarah, berinteraksi dengan komunitas, belajar membatik, hingga menikmati ruang heritage dalam satu perjalanan.

Pendekatan tersebut menjadi cara untuk menghadirkan budaya dengan suasana yang lebih dekat, personal, dan partisipatif.

“Sehari di Candi” pada akhirnya bukan hanya perjalanan menuju sebuah situs bersejarah. Kegiatan ini menjadi perjalanan untuk bertemu dengan kain, cerita, manusia, dan ruang yang menyertainya.

Ketika pengalaman tersebut selesai dan peserta meninggalkan Candi Ijo, yang dibawa pulang bukan hanya dokumentasi perjalanan, tetapi juga cerita tentang budaya yang telah mereka temui dan alami secara langsung.

Tentang Remen Jawi

Remen Jawi merupakan Travel & Event Planner dengan konsep budaya Jawa yang menghadirkan berbagai program perjalanan, event, corporate gathering, cultural experience, gastronomi, wellness, serta experiential tourism yang berakar pada kearifan lokal dan nilai nilai budaya Nusantara.

Melalui pendekatan yang mengedepankan pengalaman bermakna, Remen Jawi berkomitmen menghadirkan perjalanan yang tidak hanya menghubungkan destinasi, tetapi juga menghubungkan manusia dengan budaya, alam, dan dirinya sendiri.

Tentang Batik Enom

Batik Enom merupakan brand batik asal Yogyakarta yang didirikan pada 2017 dengan mengusung semangat “Bangga Berbatik”. Batik Enom hadir untuk mendekatkan batik kepada generasi muda melalui desain yang lebih modern, trendi, dan relevan dengan gaya hidup masa kini.

Nama “Enom” sendiri merepresentasikan semangat muda dan upaya untuk mengubah pandangan bahwa batik hanya identik dengan pakaian formal atau kalangan tertentu.

Dalam proses kreatifnya, Batik Enom memadukan esensi motif dan teknik batik dengan eksplorasi warna, potongan, serta desain yang lebih kontemporer.

Batik Enom terus membawa batik ke berbagai ruang dan kesempatan, mulai dari busana sehari-hari hingga ajang fesyen, kolaborasi, dan kegiatan kreatif. Dengan pendekatan tersebut, batik dihadirkan sebagai bagian dari gaya hidup generasi masa kini tanpa kehilangan nilai budayanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online