OPINI: Kita Semua Punya Sesuatu Yang Sulit Dilepaskan

OPINI: Kita Semua Punya Sesuatu Yang Sulit Dilepaskan

Rina Apriliani Sugiarti, S.Psi., M.Sc. Konselor Adiksi Ahli Muda Klinik Rehabilitasi Seger Waras BNNP DIY./ Istimewa

Refleksi dari Lembaga Rehabilitasi Narkoba: KITA SEMUA PUNYA SESUATU YANG SULIT DILEPASKAN

Kita mungkin tidak semuanya pecandu, tetapi kita semua berpotensi terikat pada sesuatu yang memberi rasa nyaman, mengurangi ketidaknyamanan, atau membuat kita merasa berharga. Tidak semata-mata narkoba, pada dasarnya kita semua memiliki sesuatu dalam hidup kita yang sulit dilepaskan, hingga terasa seperti mengendalikan hidup kita.

Di ruang konseling, saya sering dihadapkan dalam kondisi ketika berhadapan dengan klien, dan kami sampai pada pertanyaan yang sama, yaitu: “Apa yang membuat seseorang terus melakukan sesuatu yang dapat menyakiti diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya, bahkan ketika ia sendiri sadar akan dampaknya dan ingin menghentikan perilakunya?”

Bagi pengguna narkoba, kesulitan yang mereka alami terwujud dalam bentuk narkoba, namun bagi mayoritas yang lain, bentuknya bisa jadi tidak sejelas itu. Padahal, dalam hidup sehari-hari kita bisa melihat perilaku dopamine seeking ini dengan cukup mudah. Kebiasaan doom scrolling konten media sosial atau konten lainnya di gawai, bermain game, obsesi terhadap makanan, berbelanja, bekerja, penampilan, idola, tontonan, mendapatkan validasi, atau hubungan dengan pasangan adalah berbagai jenis contohnya.

Kita menyaksikan dan melakukannya sehari-hari, tanpa menyadari bahwa ada harga yang ternyata harus dibayar: ketidakmampuan mengendalikan diri sendiri, hasrat yang seringkali sulit ditahan, dan keseharian kita yang akhirnya harus menyesuaikan dengan perilaku tersebut. Jika pada suatu malam Anda tetap terjaga di jam tidur untuk scrolling konten medsos meski merasa lelah dan paham perlu beristirahat namun merasa sulit untuk meletakkan gawai, maka itu adalah salah satu contohnya.

Perilaku dopamine seeking adalah berbagai perilaku yang dapat mengaktifkan pleasure system di otak. Pleasure system adalah sistem di otak kita yang memproduksi dopamine, zat yang dapat membuat seseorang merasakan kenyamanan dan rasa senang. Oleh sebab itu, kita cenderung ingin mengulangi perilaku yang dapat memunculkan rasa nyaman dan senang tersebut, entah itu dalam bentuk makanan favorit, penghargaan dari tempat kerja, ataupun jumlah likes di postingan. Kita melakukan perilaku berulang (kompulsif) karena ada dampak biologis yang bisa dijelaskan terjadi di dalam otak kita.

Meski demikian, seringkali yang membuatnya jadi sulit dilepaskan bukan karena benda atau aktivitasnya, melainkan fungsi yang kita berikan kepadanya. Manusia merasakan berbagai emosi setiap saat selama kita terbangun, dan terkadang kita harus menghadapi situasi yang memunculkan emosi negatif tertentu yang sulit jika dirasakan terus menerus.

Dalam praktiknya, seringkali ditemukan dalam ruang konseling klien yang menceritakan bahwa salah satu alasan utama penggunaan narkoba adalah untuk mengatasi emosi negatifnya. Menggunakan narkoba baginya membantu untuk meredakan rasa cemas, melupakan trauma, mengatasi rasa duka, merasa diterima, atau melarikan diri dari kenyataan ketika menghadapi banyak masalah. Dalam kehidupan kita sehari-hari, fungsi serupa bisa jadi juga kita berikan pada kebiasaan dengan gawai atau makanan camilan kita. Kita mencari dopamin untuk dapat merasa lebih baik.

Hingga tingkatan tertentu, emosi negatif tersebut memang dapat menghilang dari perhatian melalui perilaku dopamine seeking yang kita lakukan. Namun pada akhirnya, ketika kita menyadari bahwa ada dampak mengganggu yang dirasakan dalam kehidupan keseharian kita, maka penting untuk menanyakan, “Apa yang sedang saya hindari melalui perilaku ini? Apakah ada rasa kesepian, kegagalan, insecure, kesedihan, ketidakpastian, atau keheningan yang membuat saya sulit berhadapan dengan diri sendiri?”

Keinginan mengganti rasa tidak nyaman dengan rasa nyaman dan senang adalah naluri manusiawi yang dapat dipahami. Di sisi lain, manusia adalah makhluk pembelajar. Perilaku dopamine seeking untuk mengatasi masalah adalah learned behavior. Dalam proses belajar, jika diketahui bahwa sebuah perilaku memunculkan masalah lainnya, maka ada kesempatan bagi individu untuk mempelajari strategi baru saat menghadapi masalah.

Dalam program rehabilitasi, proses itu dijalani melalui sesi demi sesi. Klien diberikan ruang aman untuk  dapat memahami dirinya lebih baik, mengeksplorasi proses internal yang terjadi dalam hubungan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta membangun keberdayaan sebagai pribadi seutuhnya. Dengan kata lain, klien diajak untuk memperluas opsi yang dapat membantu membuat dia merasa lebih baik, sehingga pada akhirnya dapat meninggalkan perilaku yang menimbulkan masalah.

Proses yang sama juga relevan bagi kita yang merasakan kesulitan yang serupa dalam keseharian kita. Mari tanyakan pada diri sendiri: apa yang kita lakukan ketika hidup rasanya tidak tertahankan? Apakah itu pilihan terbaik yang sepenuhnya dalam kendali kita, atau perlu kita kaji ulang?

Bagi beberapa orang, proses pembelajaran ulang bisa dilakukan secara intuitif dan alamiah, namun bagi lainnya, bantuan dari orang lain dan juga profesional dapat menjadi alternatif yang diperlukan. Menyadari bahwa terkadang diri kita membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat berdaya adalah bentuk ketangguhan diri yang seringkali luput kita sadari.

Pergi ke tempat rehabilitasi, mengakses profesional kesehatan mental, adalah wujud riil upaya yang bisa dilakukan bagi perbaikan diri sendiri, untuk sepenuhnya menyadari ada alasan sesuatu sulit untuk dilepaskan, namun juga berbarengan dengan menyadari kita juga memiliki kapasitas diri yang dapat dibangun untuk menghadapi situasi yang sulit dengan lebih sehat. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online