JABFEST 2026: Saat Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja

Media Digital
Media Digital Rabu, 07 Oktober 2026 16:42 WIB
JABFEST 2026: Saat Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja

Istimewa

Harianjogja.com, BANTUL — Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 digelar di The Ratan, Bantul, pada 30 September hingga 12 Oktober 2026.

Gelaran ini merupakan perpaduan antara buku, seni, musik, literasi, dan diskusi. Tahun ini, JABFEST 2026 mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”.

Dalam pembukaan JABFEST 2026 yang berlangsung pada Rabu (30/9/2026), sejumlah pengisi acara tampil, di antaranya Majelis Lidah Berduri, Iksan Skuter, dan Fajar Merah.

“Saksi mata, ketika kedangkalan berkuasa, maka pendalaman harus bekerja. Seni itu panjang, tapi rezim itu sementara. Itulah highlight utama, tema besar yang kita angkat pada gelaran festival kali ini,” kata Direktur JABFEST, Nurrohman.

Tema tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap arus informasi dan budaya yang serba dangkal dan instan, sekaligus upaya menolak pelupaan terhadap berbagai persoalan sosial.

Frasa “Saksi Mata” diambil dari cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang lekat dengan pergulatan mencari dan menjaga kebenaran di tengah situasi yang represif atau penuh manipulasi.

Melalui tema tersebut, penyelenggara ingin menggambarkan kondisi saat ini ketika diskursus publik, informasi, dan pemahaman sosial sering kali direduksi menjadi sesuatu yang dangkal, artifisial, atau cepat hilang ditelan waktu. Karya seni dan sastra dapat menjadi “Saksi Mata” yang bertugas merekam peristiwa sekaligus melawan fenomena pelupaan kolektif.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Nur Ikhwan Rahmanto, menyoroti peran festival sebagai ruang bertemunya berbagai bidang, mulai dari seni, sastra, penerbitan, pendidikan, pemikiran, hingga kerja-kerja kebudayaan.

“Seni, sastra, penerbitan, pendidikan, pemikiran dan kerja-kerja kebudayaan. Masing-masing bidang memilih bahasa dan cara kerjanya sendiri. Tetapi melalui ruang seperti inilah semuanya dapat bertemu, berdialog, saling memengaruhi dan melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru atau inovasi-inovasi baru,” kata Nur Ikhwan.

Dia berharap pertemuan berbagai bidang tersebut dapat menumbuhkan jejaring, pertukaran gagasan, serta kerja bersama yang berkelanjutan.

Selain pameran dan bazar buku, JABFEST juga menghadirkan beragam kegiatan, seperti kuliah (ora) umum, pidato kebudayaan, seniman bicara, berbincang, ngobrolin buku, The Sound of Poetry, layar tancap, hingga peluncuran buku. (Harian Jogja/M171/Diva Aulia Daniswari)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online