Taj Yasin Ungkap Cara Pemprov Jateng Lestarikan Bahasa Jawa

Media Digital
Media Digital Jum'at, 09 Oktober 2026 21:22 WIB
Taj Yasin Ungkap Cara Pemprov Jateng Lestarikan Bahasa Jawa

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 di Balai Bahasa Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, Jumat (9/10/2026)./ Istimewa

Di Festival Tunas Bahasa Ibu, Taj Yasin Ungkap Cara Pemprov Jateng Lestarikan Bahasa Jawa

SEMARANG – Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana membentuk karakter dan menanamkan tata krama. Karena itu, pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 di Balai Bahasa Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, Jumat (9/10/2026).

Taj Yasin mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih menerapkan kebijakan penggunaan bahasa Jawa setiap Kamis. Kebijakan yang diatur dalam peraturan gubernur tersebut menjadi salah satu upaya membiasakan masyarakat, khususnya aparatur pemerintah, menggunakan bahasa daerah dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu, penggunaan bahasa daerah turut membentuk kebiasaan bertutur yang mencerminkan unggah-ungguh atau tata krama. Nilai tersebut merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat Jawa yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

“Kalau kita pernah keluar negeri ataupun dengan para wisatawan datang ke Indonesia itu kan melihatnya tata kramanya baik, unggah-ungguhnya baik. Itu bisa tercermin apabila kita melestarikan bahasa. Itu akan terbentuk secara naluri,” kata Taj Yasin.

Ia berharap pelestarian bahasa daerah tidak hanya dilakukan melalui festival atau kegiatan di sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan instansi pemerintah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang hadir dalam kegiatan tersebut, turut menekankan pentingnya pembiasaan penggunaan bahasa daerah. Menurutnya, pembelajaran bahasa daerah di sekolah perlu diikuti dengan praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena bahasa itu soal kebiasaan dan soal pembiasaan,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menjelaskan, bahasa Jawa memiliki tingkatan bahasa yang mengajarkan penuturnya untuk menempatkan diri dan menghormati orang lain. Nilai tersebut menjadikan bahasa daerah bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana menanamkan akhlak mulia.

Abdul Mu’ti menilai, FTBI menjadi ruang bagi anak-anak untuk meningkatkan kemampuan berbahasa daerah, bertukar pengalaman, dan membangun persahabatan dengan peserta dari sekolah lain. Menurutnya, tujuan terpenting festival bukan semata-mata meraih gelar juara, melainkan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengatakan FTBI merupakan puncak program revitalisasi bahasa daerah yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.

Rangkaian program tersebut meliputi diskusi, koordinasi, pelatihan guru, pengimbasan, dan pemantauan. Melalui tahapan tersebut, pelestarian bahasa daerah diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan, termasuk dalam proses pembelajaran di sekolah.

Menurut Hafidz, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga wadah nilai-nilai luhur, identitas, dan jati diri bangsa. Ia menyampaikan bahwa pembelajaran di kelas awal dengan bahasa pengantar bahasa ibu atau bahasa daerah dapat membantu meningkatkan pemahaman murid.

FTBI Jawa Tengah 2026 diikuti 490 siswa SD dan SMP dari 35 kabupaten/kota. Festival yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 tersebut mempertandingkan berbagai cabang, mulai dari aksara Jawa, geguritan, cerkak, mendongeng, pidato, nembang macapat, hingga komedi tunggal. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online