SMK-SMTI Yogyakarta Targetkan 100 Persen Lulusan Terserap Kerja

Media Digital
Media Digital Selasa, 13 Oktober 2026 17:02 WIB
SMK-SMTI Yogyakarta Targetkan 100 Persen Lulusan Terserap Kerja

SMK-SMTI Yogyakarta Targetkan 100 Persen Lulusan Terserap Kerja./ Ist

JOGJA—SMK-SMTI Yogyakarta berkomitmen menyelaraskan kurikulum pembelajaran dengan kebutuhan industri. Salah satu upayanya dilakukan dengan menghadirkan praktisi dari berbagai perusahaan untuk berbagi pengetahuan sekaligus memberikan masukan bagi pengembangan pembelajaran. Tahun ini, sebanyak 12 praktisi industri dilibatkan untuk mendukung target keterserapan lulusan hingga 100% di dunia kerja.

Kedua belas perusahaan tersebut meliputi PT Lotte Chemical Indonesia, PT Agrofarm Nusa Raya, PT Bonecom Tricom, PT Rumah Mulya Nusantara, PT Toyo Ink Indonesia, PT TD Automotive Compressor Indonesia, PT Sugity Creatives, PT Bintang Chemical Indonesia, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT Daesang Ingredients Indonesia, PT Borneo Alumina Indonesia, dan PT SNF Polymers Indonesia.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK-SMTI Yogyakarta, Yahya Farqadain, menyampaikan setiap siswa mendapatkan pembelajaran dari praktisi industri satu kali setiap semester atau dua kali dalam setahun.

Menurutnya, penyampaian materi secara langsung oleh praktisi industri memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Meski sebagian besar guru merupakan mantan pekerja industri, siswa dinilai lebih mudah menerima pengetahuan baru ketika materi disampaikan oleh praktisi yang masih aktif berkecimpung di dunia industri.

Yahya menjelaskan, sekolah terlebih dahulu menentukan tema materi yang akan disampaikan. Selanjutnya, pihak industri menugaskan narasumber sesuai dengan tema tersebut.

Apabila materi yang dibahas bersifat teknis, praktisi yang dikirim biasanya berasal dari bagian terkait. Sementara itu, untuk materi umum, industri biasanya mengirimkan perwakilan dari bagian sumber daya manusia atau human resources (HR) maupun general affairs (GA).

"Praktisi ini bisa melihat langsung sistem pembelajaran dan peralatan yang ada, dari sana itu muncul masukan-masukan yang membangun, baik itu masukan secara alat-alat pembelajaran, sistem pembelajaran, atau materi yang diajarkan," ujarnya saat ditemui di SMK-SMTI Yogyakarta, Senin (12/10/2026).

Secara paralel, masukan dari praktisi tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menyinkronkan kurikulum dengan kebutuhan industri.

"Jadi praktisi ini cukup vital perannya di kita karena manfaatnya cukup banyak," jelasnya.

Selain menghadirkan praktisi industri, sekolah juga mengadakan roadshow ke berbagai perusahaan untuk menjajaki peluang kerja sama. Menurut Yahya, program Praktik Kerja Lapangan (PKL) disesuaikan dengan kebutuhan industri. Karena itu, sekolah perlu aktif mencari perusahaan yang membutuhkan siswa untuk belajar langsung di lingkungan kerja.

Jika menemukan industri baru yang tertarik bekerja sama, sekolah akan mengundang perwakilannya untuk menjadi praktisi dalam pembelajaran.

Lebih lanjut, Yahya mengatakan SMK-SMTI Yogyakarta menerapkan sistem pembelajaran ganda atau dual system. Melalui sistem ini, siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di industri melalui program PKL atau magang.

Sebelum menjalani PKL, siswa terlebih dahulu menyelesaikan seluruh pembelajaran di sekolah hingga tahun kedua. Dengan demikian, saat memasuki tahun ketiga, siswa dapat lebih fokus mempersiapkan diri untuk bekerja di industri.

"Kami berkomitmen lulusan terserap 100%, program utamanya itu namanya dual system, anak-anak belajar tidak hanya di sekolah tapi juga di industri," jelasnya.

Target Keterserapan Lulusan 100%

Yahya mengatakan target keterserapan lulusan sebesar 100% selalu tercapai dalam kurun waktu satu tahun setelah kelulusan. Untuk memastikan target tersebut terpenuhi, sekolah memiliki program pengembangan karier yang membantu lulusan mendapatkan pekerjaan.

Melalui program tersebut, lulusan yang belum bekerja akan dipanggil untuk menjalani evaluasi bersama tim pengembangan karier. Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi, baik dari sisi teknis maupun nonteknis.

"Alhamdulillah, target keterserapan lulusan sebesar 100% selalu tercapai," jelasnya.

Ia menyampaikan, kendala nonteknis akan ditangani oleh tim nonteknis, sedangkan masalah teknis ditangani oleh tim teknis. Bahkan, sekolah tetap memfasilitasi alumni yang sedang mencari pekerjaan baru maupun yang masa kontrak kerjanya telah berakhir.

Lebih lanjut, Yahya mengatakan tantangan yang dihadapi sekolah adalah menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan spesifik industri. Oleh karena itu, sekolah tidak sekadar menawarkan keterampilan umum yang mudah ditemukan di daerah sekitar industri, tetapi lebih menekankan keahlian khusus yang masih terbatas ketersediaannya dan dibutuhkan perusahaan.

"Lebih spesifik dan demandnya lebih kecil tapi mereka susah mencari, itu yang kita ambil. Makanya kita cari yang tenaga kerja ahli. Contoh kalau di manufaktur otomotif itu di maintenance engineering, itu yang kita ambil. Tapi tidak menutup kemungkinan operation juga, ada beberapa operation butuh skill tinggi," paparnya.

Pada kesempatan lain, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menjelaskan pentingnya menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat.

“Pendidikan vokasi perlu memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan dunia industri. Konsep link and match dan penguatan dual system menjadi pendekatan penting agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online