Pelaku Wisata Lereng Merapi Siapkan Mitigasi
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi beberapa waktu terakhir membuat sejumlah pihak bersiap. Tak hanya warga di lereng gunung, pelaku wisata di sana juga harus waspada dan memahami mitigasi bencana.
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi beberapa waktu terakhir membuat sejumlah pihak bersiap. Tak hanya warga di lereng gunung, pelaku wisata di sana juga harus waspada dan memahami mitigasi bencana.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadi guguran di Gunung Merapi pada Rabu (15/7/2020) pukul 18.29 WIB.
Pemerintah menyiapkan skenario evakuasi di lereng Merapi.
Erupsi Merapi sepuluh tahun lalu meluluhlantahkan sejumlah perkampungan. Awan panas menyapu kehidupan yang pernah tumbuh di sana. Manusia, hewan ternak, pohon-pohon, dan rumah-rumah tumbang dan terkubur bersama material vulkanik.
Keluhan masyarakat lereng Merapi mengenai kerusakan jalur evakuasi akibat truk-truk pengangkut pasir direspons Pemkab Sleman. Pemkab segera memetakan jalur evakuasi yang rusak untuk diperbaiki.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat yang berdomisili di sekitar Gunung Merapi untuk mewaspadai aktivitas gunung tersebut sebab ada potensi terjadinya erupsi.
Warga di lereng barat Gunung Merapi wilayah Desa Krinjing, Dukun, Kabupaten Magelang mendengar suara gemuruh dari Gunung Merapi pada Rabu (15/7/2020) petang.
Sejumlah persiapan mitigasi sekitar lereng Merapi dipersiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman. Untuk mengedukasi warga lereng Merapi soal proses evakuasi jika erupsi terjadi, jawatan ini mengajak warga menyiapkan tas siaga bencana.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan tingkat aktivitas Gunung Merapi masih level dua atau waspada pada Senin (13/7/2020). Tidak ada guguran lava terlihat.
Perwakilan berbagai desa di lereng Gunung Merapi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang tergabung dalam Desa Paseduluran dipertemukan untuk sinkronisasi data. Hal itu dilakukan untuk persiapan ketika sewaktu-waktu terjadi erupsi Gunung Merapi dan terjadi gelombang pengungsi di wilayah Klaten.