Air Masih Saja Jadi Masalah Bagi Petani Gunungkidul
Petani memang memiliki sumur ladang yang dapat membantu kebutuhan air untuk pertanian, namun hal tersebut belum bisa menjangkau untuk keseluruhan lahan milik petani.
Petani memang memiliki sumur ladang yang dapat membantu kebutuhan air untuk pertanian, namun hal tersebut belum bisa menjangkau untuk keseluruhan lahan milik petani.
Hingga akhir Agustus Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, sudah menyalurkan bantuan dropping air untuk mengatasi kekeringan hampir 2.000 tangki.
Saat ini ada 11 kecamatan di Gunungkidul yang terdampak kekeringan. Jumlah itu bertambah dari sebelumnya yang hanya 10 kecamatan.
Padatnya penduduk di Pulau Jawa menyebabkan krisis air yang semakin parah.
Datangnya musim kemarau membuat sebagian warga di Kabupaten Sleman mengalami kesukitan mendapatkan air bersih. Di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan ada ratusan warga yang mengalami kekurangan air dan mulai mendapatkan dropping air.
Merosotnya permukaan air tanah bukan isu main-main. Sayangnya, Pemerintah masih dinilai belum siap menghadapi bahaya krisis air akibat maraknya pembangunan.
Kekeringan yang telah melanda Kulonprogo khususnya Kecamatan Samigaluh selama tiga bulan belakangan ini mulai mendapatkan bantuan.
Setelah pintu Waduk Sermo resmi ditutup Senin (23/7/2018) lalu, saat ini Waduk Sermo hanya menyimpan lima juta meter kubik air.
Saat ini sendiri wilayah yang mengalami kekeringan masih ada di 54 desa yang berada di 11 Kecamatan. Ia mengatakan pendataan awal merupakan wilayah terdampak diambil skala luas.
Musim kemarau berdampak kekeringan di beberapa kecamatan di Kulonprogo, ditambah lagi kerusakan saluran air Talang Bowong yang berada di Desa Banjararum Kalibawang. Hal ini mengundang keprihatinan di berbagai kalangan, di antaranya Danramil 05/Kalibawang Kapten Inf Sukamta yang merasa iba ketika melihat warga di wilayahnya kekurangan air.