Indonesia Butuh Pahlawan Pemberantas Kemiskinan dan Kebodohan
Saat ini, Indonesia menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi) membutuhkan pahlawan atau pejuang dalam pemberantasan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan kesenjangan dan sejenisnya.
Saat ini, Indonesia menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi) membutuhkan pahlawan atau pejuang dalam pemberantasan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan kesenjangan dan sejenisnya.
Menjadi pahlawan masa kini bisa diaplikasikan dengan tidak menyebarkan hoaks, berlaku anarkis, atau menjadi provokator. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Syarifuddin, saat menjadi inspektur upacara Hari Pahlawan 2019.
Gelar pahlawan bakal diberikan kepada dua tokoh asal Jogja.
Kementerian Sosial mengusulkan 20 nama kepada Presiden untuk menjadi calon Pahlawan Nasional yang nantinya akan ditetapkan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019.
Sejumlah monumen perjuangan para Taruna Akademi Militer (Akmil) Jogja di era 1940an dibangun di sejumlah titik. Monumen tersebut dibangun agar masyarakat dan generasi selanjutnya mengetahui sejarah dan perjuangan yang dilakukan para Taruna Akmil.
Gaung peringatan Hari Veteran Nasional di DIY dinilai tidak semarak. Dari semua kabupaten/kota di DIY, hanya Bantul yang menggelar seremonial untuk memperingati Hari Veteran Nasional yang jatuh setiap 10 Agustus tersebut.
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional.
Pahlawan Nasional dari Jogja Abdurrahman Baswedan atau yang akrab AR. Baswedan banyak meninggalkan ratusan kaset di rumahnya di Gang Grombol, Karangwuni, Caturtunggal, Depok, Sleman. Rencananya, kaset-kaset pita itu akan ditranskrip menjadi bentuk digital.
Menanamkan jiwa patriotisme dengan cara mengenang jasa para pahlawan harus dilakukan sejak dini. Hal itulah yang diterapkan oleh pihak Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Sholeh di Dusun Bandul Lor, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Senin (12/11/2018).
Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri pernah menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka).