Begini Modus Gerakan Radikal Menghinggapi Mahasiswa di Kampus
Gerakan radikal mudah menyusup ke kampus dan mempengaruhi mahasiswa melalui kegiatan kemahasiswaan.
Gerakan radikal mudah menyusup ke kampus dan mempengaruhi mahasiswa melalui kegiatan kemahasiswaan.
Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (FCNU) Bantul menggelar seminar kebangsaan di Pendopo Parasamya, Komplek Pemerintahan Kabupaten Bantul, Sabtu (4/8/2018).
Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan kepemudaan di Kota Semarang, menolak pelaksanaan pengajian yang rencananya menghadirkan ulama asal Riau, Ustaz Abdul Somad, di Ibu Kota Jawa Tengah ini pada 30 dan 31 Juli 2018
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dinilai kebal terhadap radikalisme yang belakangan marak ditemukan di Tanah Air.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melarang masyarakat dari berbagai kalangan untuk sekadar bersimpati terhadap aksi terorisme. Mengingat dari simpati tersebut bisa berubah menjadi dukungan terhadap pelaku teror.
Masalah radikalisme di lingkungan perguruan tinggi kini semakin menjadi perhatian pemerintah.
Kabar masjid terpapar radikalisme di Jakarta sempat bikin heboh publik. Namun hal itu dibantah Mabes Polri.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta setiap mahasiswa baru harus melaporkan atau mencatatkan akun media sosialnya ke perguruan tinggi masing-masing saat mendaftarkan diri.
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo, Malang, Jawa Timur, menangkal paham radikalisme di kampus lewat praktik dan promosi budaya multikulturalisme dan dialog.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD mengatakan potensi timbulnya radikalisme masih ada di tiap daerah termasuk DIY.