Mengapa Suhu Udara Lebih Dingin Saat Musim Kemarau? Ini Penyebabnya
Tanah air saat ini tengah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2019
Tanah air saat ini tengah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2019
Petani cabai di Kulonprogo menikmati kemarau panjang karena hasil panen dari Mei lalu yang masih berlangsung sampai sekarang akan melimpah. Harga pun dianggap terus merangkak naik.
Kekeringan di DIY meluas. Hingga pertengahan Juli ini permintaan air bersih naik dua kali lipat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Sedikitnya 27 telaga di Gunungkidul beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Perubahan fungsi terjadi karena sedimentasi yang akut sehingga telaga tak mampu lagi menampung air.
Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan pemenuhan pasokan cabai dapat dipenuhi dari sentra produksi yang tidak terdampak kekeringan.
Ratusan hektare lahan persawahan di Sleman gagal panen. Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mencatat sejauh ini sekitar 148 hektare sawah di Kecamatan Prambanan puso akibat musim kemarau. Selain itu, sekitar 50 hektare sawah di Kecamatan Kalasan berpotensi mengalami kekeringan dan puso.
Tlogo Muncar di kawasan Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem menjadi andalan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Sembada Sleman untuk menekan biaya tinggi saat kemarau.
Musim kekeringan tahun ini dinilai berbeda dengan tahun lalu. Tantangan yang muncul juga berbeda, tergantung lama tidaknya musim kemarau.
Dinas Pertanian (Distan) DIY mencatat ada sekitar 1.900 hektare lahan pertanian padi di DIY terdampak kekeringan. Hingga kini, Distan masih menghitung jumlah kerugian akibat bencana kekeringan itu.
Dari total empat kabupaten di DIY yang mengalami kekeringan sebagai dampak dari musim kemarau, baru Gunungkidul yang sudah resmi berstatus darurat kekeringan.