Nelayan Gunungkidul Mulai Melaut Usai Gelombang Tinggi
Pasca gelombang tinggi yang menghantam kawasan Pantai selatan Gunungkidul, dan menyebabkan aktivitas nelayan lumpuh. Beberapa nelayan sudah mulai beraktivitas seperti biasa.
Pasca gelombang tinggi yang menghantam kawasan Pantai selatan Gunungkidul, dan menyebabkan aktivitas nelayan lumpuh. Beberapa nelayan sudah mulai beraktivitas seperti biasa.
<p>Potensi gelombang dengan ketinggian empat hingga enam meter diprediksikan masih terjadi pada pekan awal Agustus 2018. Hal itu berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat.</p>
<p>Gelombang tinggi masih mengancam sejumlah perairan wilayah Indonesia.</p>
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Asti Wijayanti mengatakan penataan nantinya akan dilakukan secara bertahap.
Masyarakat diperbolehkan mendirikan gazebo atau tempat makan namun harus mundur ke belakang, ke tempat yang lebih aman.
Gelombang tinggi yang menerjang kawasan pantai selatan berdampak sangat luas. Di sektor perikanan, sejumlah tambak udang, tempat pelelangan ikan dan perahu nelayan rusak. Bahkan di Pantai Glagah, dampak gelombang mulai mengganggu ekosistem lingkungan di laguna. Sejak Sabtu (28/7/2018) hingga Minggu (29/7/2018), ribuan ikan air tawar mabuk kemudian mati lantaran air berubah menjadi payau.
Jumlah kunjungan wisatawan di pantai selatan Gunungkidul menurun drastis usai ombak besar menerjang dan menyebabkan kerusakan ratusan bangunan.
Gelombang di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta hingga saat ini masih dalam kategori tinggi sehingga perlu diwaspadai oleh masyarakat, khususnya nelayan.
Gelombang tinggi yang menerjang kawasan pantai selatan membuat aktivitas nelayan terhambat. Mereka memilih menggunakan waktu libur untuk memperbaiki peralatan tangkap hingga menggarap lahan pertanian yang dimiliki.
Gelombang tinggi yang terjadi dalam sepekan terakhir tidak hanya berdampak pada rusaknya sejumlah bangunan. Namun juga berdampak pada turunnya omzet pedagang di kawasan Pantai Depok, Kretek.