Pemerintah Belum Berencana Tambah Jenis Vaksin Covid-19
Indonesia menggunakan tujuh jenis vaksin pada 2021 yakni Pfizer, Moderna, Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, vaksin Bio Farma dan Novavax.
Indonesia menggunakan tujuh jenis vaksin pada 2021 yakni Pfizer, Moderna, Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, vaksin Bio Farma dan Novavax.
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate meminta masyarakat untuk aktif melapor kepada pihak berwajib jika menemukan oknum yang meminta bayaran dari vaksinasi Covid-19 sebab gerakan vaksinasi yang berlangsung sejak 13 Januari 2021 tidak dipungut biaya apapun.
Hingga saat ini, Indonesia telah memvaksinasi hampir 57 juta warganya. Hal itu menjadikan negara ini berada di posisi ke-6 sebagai negara dengan jumlah orang yang divaksin tertinggi.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menargetkan penyuntikan vaksin 50 juta dosis per bulan mulai September 2021 untuk menuntaskan target vaksinasi di Januari 2022.
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menargetkan angka vaksinasi Covid-19 harian mencapai 3.000 sampai dengan 4.000. Angka tersebut diperlukan guna mengejar target capaian vaksinasi Covid-19 dosis pertama di wilayah Bumi Binangun pada Oktober mendatang mencapai 100%.
Epidemiolog dari FKM Universitas Indonesia Pandu Riono menilai kekebalan komunal atau "herd immunity" baru akan tercapai jika efektivitas vaksin di atas 80 persen.
Tingginya penyebaran Covid-19 saat ini telah menjadi perhatian dan Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) sebagai salah satu penggerak dalam sektor pariwisata di Jogja, berperan aktif dalam memerangi penyebaran virus tersebut.
Terlebih, sudah ada anjuran untuk melakukan suntikan tambahan dari Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI).
Sejumlah kalangan mendesak agar para siswa mendapatkan prioritas mendapatkan vaksinasi Corona. Hal ini bertujuan untuk mendukung pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah yang hingga saat sekarang masih menjadi wacana.
Dinas Kesehatan Kota Jogja menyebut pemberian vaksin dosis ketiga (booster) kepada tenaga kesehatan (nakes) di wilayah itu disinyalir bakal mundur dari target yang ditentukan. Musababnya, terdapat sejumlah nakes yang berstatus sebagai penyintas Covid-19 dan mesti menunggu waktu selama tiga bulan agar boleh menerima vaksin booster.