BPBD Gunungkidul Menilai Bencana Awal Penghujan Dinilai Tidak Parah
Awal musim penghujan di tahun ini dinilai tidak begitu parah dampaknya dibanding tahun lalu. Terlambatnya musim penghujan dinilai menjadi salah satu alasannya.
Awal musim penghujan di tahun ini dinilai tidak begitu parah dampaknya dibanding tahun lalu. Terlambatnya musim penghujan dinilai menjadi salah satu alasannya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman terus bersiaga dan mengantisipasi bencana yang terjadi saat musim hujan. Berkaca pada peristiwa tanah longsor yang terjadi 2017, empat desa dipetakan dengan potensi longsor paling tinggi.
Masyarakat di sepanjang bantaran kali yang berhulu di Merapi diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan jika intensitas hujan yang turun cukup tinggi. Pasalnya hampir seluruh bantaran sungai memiliki potensi longsor.
Identifikasi secara visual kepada korban bencana massal seperti bencana alam atau kecelakaan transportasi sangat tidak disarankan karena tidak akurat dan dapat terjadi kesalahan identifikasi. Hal itu diungkapkan Dokter forensik dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Hujan semalam suntuk yang mengguyur Kulonprogo Selasa (27/11/2018) menyebabkan proyek normalisasi Sungai Serang dan anak sungai di Dusun Bojong I, Desa Bojong, Kecamatan Panjatan terhambat. Air hujan menggenangi lokasi proyek sehingga menyulitkan pembangunan.
Hujan yang mengguyur Kulonprogo sejak Senin (26/11/2018) siang hingga sore kemarin menyebabkan sejumlah kejadian tanah longsor. Tercatat dua peristiwa tanah longsor terjadi di wilayah Kecamatan Samigaluh. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Wilayah DIY sudah mulai diguyur hujan dengan intensitas lebat dari Senin (26/11/2018). Dua pohon tumbang membuat arus lalu lintas dan jaringan listrik terganggu.
Gunung Merapi memasuki fase erupsi magmatis sejak 11 Agustus 2018 lalu yang ditandai dengan munculnya kubah lava. Hal ini menunjukkan erupsi 2018 ini bersifat efusif dan sesuai dengan skenario di mana aktivitas paska letusan 2010 cenderung mengikuti kronologi aktivitas pascaletusan 1872.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memetakan potensi bencana mulai dari tanah longsor sampai banjir. Berdasar pemetaan, tiap kecamatan memiliki potensi bencana yang berbeda.
Kementerian Sosial memfasilitasi terbentuknya Kampung Siaga Bencana (KSB) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.