Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 097
Dengan galau Latri memanggil Lurah Pangarsa yang sudah separuh baya.
Dengan galau Latri memanggil Lurah Pangarsa yang sudah separuh baya.
Seorang pelayan datang. Menghidangkan wedang jahe serai panas beserta satu nampan makanan ringan. Percakapan terhenti sejenak, dan Latri memberi tanda agar pelayan itu cepat pergi. Tapi abdi dalem itu, seorang dayang berkulit kuning langsat, berusia dua puluh dua tahun, memandang bimbang kepada majikan putrinya.
Pangeran Arya Damar mundur dari balairung dengan tertunduk lesu. Wajahnya sangat keruh. Jauh di lubuk hati ia sama sekali tidak percaya bahwa Dinar berada di balik pembunuhan keji itu. Ia mengenal betul siapa Dinar.
Dengan tubuh gemetar dan tangan basah keringat, Darsi mengulang kisahnya pada senja itu menyaksikan Demang Dinar melukai ayam Si Petak Traju Mas dari jarak jauh.
Ia sedang sibuk memikirkan kematian demi kematian aneh yang terjadi di Tembayat. Gusti prabu memberinya tugas menelisik desas desus tentang rencana pemberontakan. Sekarang, pelayan ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek. Matanya memandang jengkel gadis di depannya yang masih terus menangis.
Dinar membuang boneka setelah meremas hancur kembali menjadi tanah liat. Patremnya disimpan di pinggang. Sambil berloncatan dalam pekat malam, Dinar membayangkan Pangeran Purwawisesa dengan geram.
Dinar bisa meloncat dalam posisi bersila, ini sudah menunjukkan betapa saktinya saudara seperguruan Damar itu. Wiku Suragati tidak merasa terhina mati di tangan seorang digdaya. Ia hanya penasaran dendamnya tidak tertunaikan.
Mata sang wiku terbelalak kaget. Mulutnya seperti merintih atau menangis atau keduanya. Dinar menggerakkan tubuhnya. Ia terbebas dari kekuatan mukjizat. Cundrik dibuang ke sudut; tangannya dengan seluruh kekuatan memukul kepala reca Batara Kala.
Bukan main dahsyatnya cengkeraman Dinar, yang melatih diri bertahun-tahun di padepokan Begawan Sempani. Jari tangannya mampu meremas hancur batu karang. Kini sekali menangkap pergelangan tangan Wiku Suragati seperti lekat. Sang wiku memekik kesakitan, merintih-rintih, dan berusaha melepaskan cengkeraman. Sia-sia. Dengan marah tongkat hitamnya ganas memukul kepala Dinar yang tetap tidak mau melepaskan cengkeram, bahkan menambah tenaga, sambil memiringkan bahunya. Ia sudah memperhitungkan cermat segala akibat.
Dinar meloncat berputaran, gerakannya cepat sekali, namun diam-diam mengeluh karena aura cundrik itu seakan-akan menghalangi gerakannya menjadi canggung. Ketika entah kesekian kali tongkat butut menghantam kepala, Dinar miringkan tubuh membiarkan toya lewat di dekat pundak, kemudian secepat kilat tangan kanannya menangkap pergelangan tangan kiri lawan yang memegang cundrik. Dengan pengerahan tenaga dalam, jari-jari tangan Dinar mencengkeram.