Disdag Bantul Tak Gelar Operasi Pasar Gula Pasir dalam Waktu Dekat, Ini Alasannya
Setelah menggelar operasi pasar gula pasir pada April lalu, untuk bulan ini, Dinas Perdagangan (Disdag) Bantul belum mengagendakan rencana kegiatan tersebut kembali.
Setelah menggelar operasi pasar gula pasir pada April lalu, untuk bulan ini, Dinas Perdagangan (Disdag) Bantul belum mengagendakan rencana kegiatan tersebut kembali.
Sebagai upaya untuk menstabilkan harga gula yang sampai saat ini di pasaran masih sekitar Rp17.000, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menggelar operasi pasar di Balai Kota Jogja, Senin (5/4/2020). Sebanyak dua ton gula disediakan dalam operasi pasar ini.
Guna menekan harga gula yang terus merangkak naik, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman menggelar operasi pasar (OP) di wilayah pinggiran Sleman. Dalam OP itu, warga dibatasi hanya boleh membeli maksimal dua kilogram gula.
Lonjakan harga gula tak hanya terjadi untuk komoditas gula pasir. Di Bantul, harga gula jawa dan gula batu juga ikut naik sebagai imbas dari naiknya harga gula pasir.
Menipisnya stok gula hasil produksi dalam negeri pada awal tahun membuat pasar gula kristal putih (GKP) konsumsi diperkirakan bakal membutuhkan gula mentah (GM) eks-impor. Di sisi lain, masa panen tebu yang mundur pun disebut berpotensi mengganggu pasokan gula pada paruh pertama 2020.
Tim gabungan Dinas Perdagangan (Disdag) DIY dan Disdag Bantul serta kepolisian menemukan gula kristal rafinasi (GKR) dijual eceran oleh pedagang di pasar. Padahal gula kristal rafinasi hanya boleh dijual pada industri dengan berbagai ketentuan.
Pada periode 2020-2024, Kementerian Pertanian berencana menambah 15 pabrik gula baru untuk memenuhi kebutuhan gula industri sebanyak 3,2 juta ton.
Upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula nasional 2019 harus didukung semua pihak. Salah satunya adalah pabrik gula swasta di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Demikian disampaikan Wakil Bupati Pati, Saiful Arifin.
Produksi gula batu di Dusun Kerto, Desa Pleret menjadi salah satu industri rumah tangga andalan di Kecamtan Pleret. Omzet usaha ini sudah menembus Rp30 juta per bulan. Industri rumahan ini dapat menyerap tenaga kerja dari warga sekitar.
Kebijakan impor gula mentah untuk dijadikan gula kristal putih disinyalir berdampak pada melemahnya permintaan gula petani, yang berujung pada melempemnya pertumbuhan harga lelang.