Harga Sedang Tinggi, Sekarang Saatnya Petani Tanam Kedelai
Perawatan tanaman kedelai yang rumit, membuat petani belum bisa memaksimalkan pertanian kedelai meski harga jual yang terbilang tinggi.
Perawatan tanaman kedelai yang rumit, membuat petani belum bisa memaksimalkan pertanian kedelai meski harga jual yang terbilang tinggi.
Hujan yang mulai mengguyur Gunungkidul belakangan ini, menjadi angin segar bagi petani untuk memulai kembali aktivitas bertaninya. Hal itu dikarenakan kebanyakan pertanian di Gunungkidul merupakan sawah tadah hujan.
Program kartu tani yang digerakkan pemerintah hingga sekarang belum berjalan di Gunungkidul. Hal ini berdampak terhadap penyaluran pupuk bersubsidi karena menggunakan cara yang lama.
Untuk menyiasati agar petani tidak merugi, bawang merah tidak dijual secara langsung semuanya.
Tingginya nilai tukar dolar yang masih tinggi berpengaruh pada harga kedelai import yang ikut mahal. Akibatnya hal itu justru berdampak positif pada petani kedelai lokal lantaran harga kedelai lokal yang biasanya rendah kini melonjak.
Petani memang memiliki sumur ladang yang dapat membantu kebutuhan air untuk pertanian, namun hal tersebut belum bisa menjangkau untuk keseluruhan lahan milik petani.
Saat ini para petani sudah mulai melakukan pengolahan lahan, dan sudah mencapai 40% untuk wilayah Gunungkidul.
Tujuan dari pembangunan irigasi ini adalah mendukung percepatan swasembada pangan, padi, jagung, kedelai dan hortikultura.
Kenaikan harga gaplek dipicu karena barang tersebut sulit didapat.
Musim kemarau diklaim Dinas Pertanian dan PanganGunungkidul tidak begitu berpengaruh terhadap pertanian. Puso akibat kekeringan terjadi saat awal musim kemarau pada Mei dan Juni.