Pemdes Bermimpi Kembalikan Kejayaan Pantai Samas yang Bebas Prostitusi dan Miras
Pemerintah Desa (Pemdes) Srigading, Kecamatan Sanden, terus berupaya mengembalikan kejayaan Pantai Samas seperti beberapa tahun silam.
Pemerintah Desa (Pemdes) Srigading, Kecamatan Sanden, terus berupaya mengembalikan kejayaan Pantai Samas seperti beberapa tahun silam.
Puluhan pelaku usaha yang tergabung dalam Paguyuban Pondok Laguna Pantai Glagah, menggelar aksi unjuk rasa menolak penataan kawasan pantai. Aksi ini mereka lakukan di sela-sela Upacara Hajad Dalem Labuhan yang diselenggarakan Kadipaten Pura Pakualam di kawasan Pantai Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Selasa (10/9/2019) pagi.
Melalui program Padat Karya Infrastruktur, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja baru saja merampungkan pengerjaan sejumlah infrastuktur, salah satunya pada jalan cor blok sepanjang 161 meter di bantaran Kali Code, Kelurahan Kotabaru, Gondokusuman.
Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo akan membuka ruang diskusi dengan para pelaku usaha di Pantai Glagah, Kecamatan Temon yang beberapa waktu lalu menolak sosialisasi penataan kawasan pantai.
Proyek revitalisasi Stasiun Tugu Jogja dimulai tahun ini. Revitalisasi stasiun tugu ke depan bakal berdampak pada penataan kawasan di sekitarnya.
Pengembangan kawasan terpadu Stasiun Tugu Jogja akan dilakukan tahun ini. Pengembangan kawasan heritage tersebut diharapkan selesai hingga tiga tahun ke depan.
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan mencari solusi untuk menyelesaikan polemik terkait penolakan penataan kawasan Pantai Glagah dan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) oleh para pelaku usaha di wilayah tersebut.
Gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) tahun ini resmi ditutup, Selasa (19/2/2019) malam. Penutupan itu juga membuka lembar baru, terkait kelanjutan revitalisasi kawasan Ketandan sebagai kawasan Pecinan.
Penataan kawasan kumuh di DIY terus dilakukan. Sampai saat ini, dari 340 titik kumuh yang ada sudah tergarap 90%.
Pembangunan tol yang masif di berbagai titik di Pulau Jawa menuai pujian. Pemudik di akhir tahun dapat mencapai perbatasan DIY lebih cepat dua-tiga jam dari perjalanan yang biasa ditempuh. Sayang, saat masuk Kota Budaya ini, situasi berubah. Laju kendaraan yang semula kencang terpaksa berjalan merayap. Jogja pun kini disandingkan dengan Jakarta yang selama ini menjadi jawara kemacetan dan menjadi calon penerima istilah menua di jalanan. Benarkah Jogja pantas menyemat status itu?