BI Diminta Jujur Soal Fundamental Rupiah yang Baru
Bank Indonesia diminta terbuka dengan fundamental baru rupiah. Sebab kurs mata uang rupiah terhadap dolar jauh dari asumsi Rp13.400.
Bank Indonesia diminta terbuka dengan fundamental baru rupiah. Sebab kurs mata uang rupiah terhadap dolar jauh dari asumsi Rp13.400.
Sampai saat ini, rupiah masih mengalami pelemahan. Kondisi ini menunjukkan kebijakan penaikan suku bunga acuan tidak cukup efektif. Dibutuhkan strategi jitu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, agar mata uang Garuda kembali perkasa.
Tak hanya mengakibatkan sejumlah pelaku industri berbahan baku ekspor kelimpungan, melemahnya nilai tukar rupiah ternyata justru menguntungkan sejumlah sektor industri, salah satunya manufaktur. Seperti diketahui, Pekan ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masuk ke zona Rp 14.000.
Investor semakin meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) terus menaikkan suku bunga hingga 2019 sehingga membuat dolar AS melonjak terhadap sebagian besar mata uang negara berkembang dalam sebulan terakhir. Akibatnya bank-bank sentral negara berkembang menghadapi ujian paling berat sejak peristiwa taper tantrum pada 2013 silam.
Hari ini (2/5) pukul 10:32 WIB, rupiah kembali melemah 36 poin menjadi Rp13.948 per dolar AS jelang rilis data inflasi April 2018 oleh Badan Pusat Statistik Indonesia pada pukul 11:00 WIB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi di Amerika Serikat dan arah kebijakannya, terutama yang berpengaruh signifikan terhadap perekonomian global dan domestik.
Upaya Bank Indonesia menstabilkan nilai tukar tak dapat diartikan jika cadangan devisa nasional dalam posisi kritis. Stabilisasi nilai tukar justru diperlukan untuk mengantisipasi guncangan sentimen kenaikan Fed Fund Rate dan isu perang dagang AS--Tiongkok. Pada akhir Maret 2018, cadangan devisa berada di level US$126 miliar.