Penanganan Buta Aksara Dikemas dengan Budaya
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengemas sejumlah program penuntasan buta aksara dengan budaya, keterampilan, dan bahasa.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengemas sejumlah program penuntasan buta aksara dengan budaya, keterampilan, dan bahasa.
Melalui kegiatan bertajuk Jogja Menyapa: Ngaruhke, Ngarahke, Tepung, Dunung, Srawung yang digelar di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (20/8/2019), Pemda DIY bermaksud mengenalkan aspek-aspek sosial kemasyarakatan, pola perilaku kesantunan, keramahtamahan, seni, budaya, dan kuliner yang menjadi karakter Keistimewaan DIY.
Mandira Baruga (dulu bernama Purawisata) akan merayakan hari ulang tahun ke-43 Ramayana Ballet Purawisata pada Rabu (21/8/2019). Pencapaian usia ini dirayakan sekaligus untuk terus melestarikan budaya pada generasi masa kini.
Event Rintisan Potensi Desa Budaya yang diadakan selama lima hari oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merupakan penunjang sektor pariwisata. Kegiatan ini selesai dihelat pada Jumat (9/8/2019).
Sebagai salah satu upaya mengukuhkan predikat Jogja sebagai Kota Budaya di tingkat ASEAN pada 2018-2020, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bekerja sama dengan sejumlah komunitas budaya Jogja akan menggelar Jogja Cross Culture pada Sabtu-Minggu (3-4/8/2019).
Pembangunan Taman Budaya Sleman (TBS) yang semula akan dibangun di Sidoluhur, Kecamatan Godean, dipindah ke Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman. Harga tanah dinilai jadi biang alasan pemindahan lokasi tersebut.
Generasi muda diingatkan untuk tidak terasing dengan kebudayaan daerahnya. Meski berada di wilayah DIY, kearifan lokal daerah tidak boleh dihilangkan.
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nadjamuddin Ramly mengatakan sesuai amanat UU No.5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kebudayaan daerah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (Pemda).
Dalam rangka menjaga nilai adat, tradisi, dan seni serta memajukan kebudayaan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, menyelenggarakan pembinaan lembaga penggiat seni dan sanggar.
Kebudayaan Tionghoa selalu bersifat terbuka dan tidak pernah menolak atau menyingkirkan kebudayaan lain yang memiliki manfaat bagi umat manusia. Itulah sebabnya kebudayaan Tionghoa bisa bertahan selama 5.000 tahun dan berkembang terus menerus. Hal itu dibahas dalam Seminar on People-to-People Connectivity and Dialogue among Civilizations dan Pameran Foto bertajuk Belt and Road di Royal Ambarrukmo Yogyakarta (YIA), Sleman, Sabtu (22/6).nn