PELABUHAN DI KULONPROGO : Mangkrak, Tanjung Adikarto Rusak Sana-Sini
Dari awalnya ditarget bisa beroperasi 2012 namun hingga 2017 belum bisa terealisasi
Dari awalnya ditarget bisa beroperasi 2012 namun hingga 2017 belum bisa terealisasi
Belum mengetahui pasti tindak pidana yang dilakukan siswa Kelas XII SMK tersebut
Telkom menyiapkan 12 unit genset portable untuk mengatasi permasalahan jaringan
Uji coba selevel diperlukan untuk mengukur kesiapan Persiba
Sebenarnya bisa saja dipasang plakat, misalnya hotel ini masih menunggak pajak atau disita asetnya
harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) menjadi pemicu tertinggi kematian bayi (0-11 bulan) di Gunungkidul sepanjang 2013. Kepala Seksi Bina Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Gunungkidul Endang Ismiyati menuturkan ada 89 kasus kematian bayi di Gunungkidul sepanjang 2013 dan 28 kasus kematian dari 89 kasus disebabkan oleh BBLR. Ia menambahkan BBLR bisa dipicu pernikahan dini karena usia reproduksi seorang wanita itu ketika berusia 20 sampai 35 tahun. Kalau kurang dari 20 tahun masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. “Kalau dalam usia dini sudah hamil, nutrisi yang seharusnya untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh sendiri, harus dibagi dengan janin yang sedang dikandung. Selain itu, kondisi mental belum siap untuk menjadi seorang ibu,” tutur Endang kepada Harian Jogja, Kamis (9/1).
harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Harga cabai naik sejak sepekan terakhir. Pedagang pasar menyebut kenaikan karena faktor cuaca. Di Pasar Argosari Wonosari, harga cabai merah Rp35.000 per kilogram padahal empat hari lalu masih Rp20.000 per kilogram. Untuk cabai hijau keriting dari Rp10.000 naik menjadi Rp15.000 sedangkan cabai rawit merah Rp30.000, naik dari harga sebelumnya Rp20.000. “Semuanya pada naik,” kata Supiyanti, 52, Kamis (9/1). Pedagang sayur dan bumbu dapur di lantai kesatu ini mengaku banyak pembeli yang kaget dengan kenaikan tersebut. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena kenaikan dari petani. “Katanya banyak yang gagal panen karena cuacanya sedang tidak bagus untuk cabai dan sayuran,” ucap Supiyanti. Ia kulakan sayuran dari Boyolali dan Magelang, Jawa Tengah. Pedagang sayur lainnya, Handayani, mengaku kenaikan membuatnya tidak mendapat untung banyak karena beberapa sayuran terkadang membusuk tidak laku dijual.
harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ngatirah, 40, warga Dusun Keblak, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu nekat membacok suaminya, Suharno, 45, Rabu (8/1). Akibat kejadian itu, Suharno menderita luka serius dan dirawat di RSUD Wonosari. Kepala Dusun Keblak Rubiyo mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Pagi itu Suharno sedang berada di ladang, yang tak jauh dari rumahnya. Datang Ngatirah yang mempertanyakan perihal penggadaian dan suami-istri itu sampai terlibat adu mulut. Tak disangka Ngatirah membacokan sabit yang dibawanya ke tangan bagian kanan Suharno. “Sempat dibawa ke rumah sakit,” kata Rubiyo, kemarin. Menurut dia, Ngatirah selama ini dikenal baik dan sering bergaul dengan masyarakat. Tidak pernah terlihat ada permasalahan dengan suaminya. Rubiyo menduga Ngatirah kesal karena baru datang dari Jakarta mengetahui dokumen Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor yang dibelinya digadaikan Suharno. “Uang gadainya katanya tidak jelas digunakan untuk apa,” ucap Rubiyo. Kepala Unit Reskrim Polsek Semanu Ajun Inspektur Polisi Dua Sofyan Susanto saat dimintai konfirmasi mengatakan kasus pembacokan Ngatirah terhadap Suharno sudah selesai secara kekeluargaan.
harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Arena panjat milik Gunungkidul masih dalam tahap penggarapan sampai pekan pertama bulan ini. Dinding panjat dibangun di belakang kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Kepala Seksi Pemuda Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul Agus Mantara menuturkan pembangunan arena panjat dianggarkan Rp129,7 juta. Arena panjat dibangun dengan ketinggian 16 meter, alas delapan meter dan atas 7,8 meter. “Sebetulnya arena itu dibangun untuk persiapan Pekan Olahraga Daerah 2013. Namun, karena cabang olahraga panjat dinding digelar di Jogja, pembangunan arena difokuskan untuk latihan,” paparnya saat ditemui Harian Jogja di kantornya, Rabu (8/1). Agus menambahkan arena panjat akan difungsikan untuk arena latihan atlet-atlet panjat tebing di Gunungkidul, yang selama ini kerap latihan di alam terbuka seperti di Pantai Siung.
harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah pengecer gas elpiji 12 kilogram mengaku merugi pascarevisi harga oleh PT.Pertamina per Selasa (71) karena sudah kulakan dengan harga mahal. Pemilik pangkalan elpiji UD Bintang di Jalan Agus Salim Wonosari, Iwan Santoso, mengaku harus merugi ratusan ribu rupiah. Sebelum Pertamina merevisi harga, Iwan dikirim 125 tabung elpiji 12 kilogram dari agen dengan harga Rp135.00 per tabung namun baru laku 70 tabung. Kondisi itu membuat dia tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa menyesuaikan dengan harga baru. Jika tetap mempertahankan dengan harga lama akan memberatkan konsumen bahkan pelanggannya bisa kecewa. “Namanya usaha terkadang harus merugi,” kata Iwan, kemarin.