Wanasekar Tawarkan Kembali ke Alam untuk Redakan Penat

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 02 Juni 2026 09:42 WIB
Wanasekar Tawarkan Kembali ke Alam untuk Redakan Penat

Peserta sedang mengikuti sesi dance healing di Wanasekar Resort, Kalurahan Sendangadi, Mlati, Sleman, Minggu (31/5/2026)./ Harian Jogja

Wanasekar Tawarkan Kembali ke Alam untuk Redakan Penat Masyarakat Modern

SLEMAN—Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi tekanan pekerjaan, ruang tertutup, dan ritme hidup serba cepat, Resort Wanasekar di Sleman menawarkan konsep kembali ke alam sebagai cara membantu masyarakat memulihkan diri dari kejenuhan dan tekanan keseharian melalui fasilitas dan program aktivasi yang ada.

Resort Manager Wanasekar, Khairul Anwar, mengatakan konsep utama yang diusung pengelola ialah menghadirkan pengalaman menyatu dengan alam secara utuh. Kebutuhan untuk kembali ke lingkungan alami semakin dirasakan masyarakat modern yang sehari-hari hidup di tengah bangunan beton, ruang kerja tertutup, dan tekanan aktivitas.

Ia menjelaskan, berbagai aktivitas di Wanasekar dirancang mengikuti ritme ekosistem sekitar, bukan pengalaman yang dibuat secara artifisial. Salah satunya dilakukan melalui pemanfaatan sungai untuk aktivitas water purification, penggunaan ruang terbuka, serta memaksimalkan suara alam sebagai bagian dari pengalaman tamu.

Menurutnya, suasana hutan, suara pepohonan, dan udara segar justru menjadi kemewahan yang kini banyak dirindukan masyarakat urban. Ia menilai, alam menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota.

“Kalau kamu balik ke alam, alam itu adalah the most luxurious thing on earth yang saat ini sebenarnya dikangenin sama orang-orang,” kata Awang ditemui di Wanasekar Resort, Minggu (31/5/2026).

Ia menyebut, tamu yang datang ke Wanasekar tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga wisatawan mancanegara seperti Jepang, Jerman, dan Belanda. Sebagian besar, katanya, datang dengan tujuan memulihkan energi setelah lelah menghadapi rutinitas sehari-hari.

Awang menuturkan banyak pengunjung datang untuk mencari pengalaman recharge atau mengisi ulang daya hidup melalui suasana alami yang tenang. Tidak sedikit tamu yang mengaku memperoleh kualitas tidur lebih baik setelah bermalam di lingkungan hutan alami.
Selain menawarkan pengalaman kembali ke alam, pengelola Wanasekar juga berupaya menjaga ekosistem yang sudah ada.

Pepohonan tua dipertahankan sebagai bagian utama kawasan, sementara tanaman yang telah berumur diganti untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Adapun konsep bangunan di Wanasekar juga tidak menjadikan beton sebagai elemen dominan, melainkan mempertahankan vegetasi alami sebagai identitas kawasan. Keberadaan pepohonan tua menjadi penanda bahwa lingkungan sekitar tetap terjaga dan asri.

Di sisi lain, konsep wellness di Wanasekar disebut tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas relaksasi semata, tetapi mencakup gaya hidup secara menyeluruh. Karena itu, pengelola menerapkan berbagai praktik ramah lingkungan seperti penggunaan botol kaca isi ulang, bahan pembersih berbasis alami, serta makanan segar tanpa MSG.

Awang berpandangan bahwa pemulihan diri tidak cukup dilakukan lewat aktivitas tertentu, tetapi juga melalui lingkungan yang sehat, pola hidup yang lebih dekat dengan alam, dan pengalaman beristirahat yang berkualitas. Dengan pendekatan tersebut, Wanasekar ingin menjadi ruang alternatif bagi masyarakat modern untuk sejenak menjauh dari tekanan kehidupan sehari-hari dan kembali terhubung dengan alam.

Melalui fasilitas dan konsep yang diusung, Wanasekar Resort menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan program wellness dengan tajuk Wening Rasa – Javanese Nature Wellness Weekend.

Program wellness itu menggabungkan praktik pemulihan diri dengan nilai-nilai filosofi Jawa melalui pendekatan yang holistik.
Digagas oleh Remen Jawi, program berlangsung pada 30 Mei hingga 1 Juni 2026 di tiga lokasi di DIY, yaitu Hyatt Regency Yogyakarta, Abhayagiri – Sumberwatu Heritage Resort, dan Wanasekar Resort. Selama tiga hari, peserta diajak mengikuti berbagai pengalaman yang dirancang untuk membantu mereka memperlambat ritme kehidupan, meningkatkan kesadaran diri, serta membangun kembali koneksi dengan alam.

Project Management Remen Jawi, Alma Pandita, mengatakan program tersebut lahir dari keyakinan bahwa budaya Jawa memiliki banyak nilai yang masih relevan untuk menjawab tantangan kehidupan masa kini. Menurut ia, Wening Rasa tidak hanya menawarkan relaksasi, tetapi juga perjalanan reflektif yang membantu peserta memahami diri secara lebih mendalam melalui tahapan awareness, release, reconnect, dan integration.

“Budaya Jawa memiliki banyak nilai dan praktik yang dapat membantu seseorang menemukan kembali ketenangan batin, baik secara mental maupun emosional,” kata Alma ditemui di Wanasekar Resort, Minggu (31/5/2026).

Rangkaian kegiatan yang disiapkan mencakup delapan pengalaman wellness yang saling terhubung, mulai dari Yoga Sulur – Sacred Flow Yoga, Mindful Dancing – Soul Motion, Inner Glow Ritual – Nusantara Beauty Experience, Golden Silence – Mandala & Sunset Meditation, Still Frames – A Journey in Conscious Photography, The Water Blessing – A Javanese Soul Ritual, Breath & Scent – A Journey into Relaxation, hingga Resonance Experience – Tune into Inner Peace.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah The Water Blessing – A Javanese Soul Ritual yang dilaksanakan di kawasan alam Wanasekar. Fasilitator Mira Astra menjelaskan bahwa sesi tersebut berangkat dari filosofi air sebagai simbol pembaruan dan penyelarasan diri. Menurutnya, air dalam tradisi Nusantara memiliki makna yang erat dengan proses refleksi dan pelepasan berbagai beban emosional.

Ia menilai suasana alam yang masih terjaga, keberadaan aliran sungai, serta lingkungan yang relatif tenang menjadi faktor yang membantu peserta lebih mudah menghadirkan kesadaran penuh terhadap diri mereka sendiri.

“Dalam budaya Jawa, air dipercaya memiliki fungsi yang berbeda-beda. Di tempuran seperti ini lebih diarahkan untuk membantu orang kembali tenang dan menyelaraskan kondisi dirinya,” kata Mira.

Selain pengalaman berbasis alam, peserta juga diajak mengenali diri melalui gerak sadar dalam sesi Mindful Dancing – Soul Motion. Fasilitator Mila Rosinta Totoatmojo menjelaskan bahwa aktivitas tersebut tidak berorientasi pada kemampuan menari, melainkan pada proses mengenali dan mengekspresikan emosi melalui tubuh.

Menurut Mila, masyarakat saat ini sering kali hidup dalam tuntutan untuk selalu produktif sehingga tidak memiliki cukup ruang untuk berhenti dan mendengarkan apa yang sedang dirasakan. Melalui gerakan yang dilakukan secara sadar, peserta diajak memberi ruang bagi berbagai emosi yang selama ini mungkin terpendam.

Ia juga menilai budaya Indonesia memiliki banyak praktik yang dapat menjadi sarana pemulihan emosional dan mental apabila dikemas secara relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Budaya-budaya Indonesia itu bisa menjadi ramuan atas kegelisahan yang terjadi di masyarakat,” kata Mila.

Pengalaman yang dihadirkan dalam Wening Rasa juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya adalah Ken Tanara yang datang dari Jakarta untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya menyediakan waktu bagi diri sendiri di tengah kesibukan yang padat.

Menurut Ken, setiap sesi yang diikutinya memberikan pengalaman reflektif yang berbeda. Mulai dari aktivitas kreatif, gerak sadar, hingga ritual berbasis alam membantunya memahami kondisi diri secara lebih jernih dan menerima berbagai hal yang selama ini menjadi beban pikiran.

“Setelah mengikuti prosesnya, saya merasa lebih ringan. Bukan berarti semua masalah langsung selesai, tetapi ada perasaan lebih tenang setelah menjalaninya,” ujar Ken.

Melalui penyelenggaraan Wening Rasa, Remen Jawi berharap dapat menghadirkan pengalaman wellness yang tidak hanya berfokus pada relaksasi, tetapi juga mendorong proses refleksi yang lebih mendalam. Program tersebut sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kekayaan filosofi Jawa sebagai bagian dari pendekatan wellness yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.(Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online