PDIP Kota Jogja Tanam 300 Pohon dan Gelar Simulasi Bencana
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, sedang menyampaikan rangkaian perayaan musik Fête de la Musique 2026 di PORTA by Ambarrukmo, Kamis (11/6/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
SLEMAN—Perayaan musik global asal Prancis, Fête de la Musique 2026, siap digelar di Jogja pada 20 Juni mendatang. Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta berkolaborasi dengan Kelana Swara Ambarrukmo untuk menghadirkan panggung bagi musisi emerging sekaligus memperkuat hubungan budaya Indonesia–Prancis melalui musik.
Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, mengatakan kolaborasi ini menjadi kelanjutan dari berbagai program seni dan budaya yang sebelumnya telah dijalankan bersama Ambarrukmo. Ia menegaskan, Fête de la Musique bukan sekadar konser, melainkan gerakan budaya yang bertujuan mendekatkan musik kepada semua kalangan.
“Tujuan acara ini adalah membawa orang-orang bersama melalui musik. Musik menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang,” ujar Margaux dalam konferensi pers di PORTA by Ambarrukmo, Kamis (11/6/2026).
Fête de la Musique sendiri lahir di Prancis pada 1980-an dan kini dirayakan secara global di berbagai kota di dunia, termasuk Indonesia. Di Jogja, agenda ini menjadi bagian dari program tahunan IFI yang terus berkembang dengan pendekatan lebih profesional.
Pada edisi 2026, IFI Yogyakarta ingin menghadirkan kualitas pertunjukan yang lebih matang sekaligus membuka ruang bagi musisi lokal yang tengah berkembang untuk tampil di panggung yang lebih luas. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring internasional bagi pelaku musik lokal.
Dalam kolaborasi tersebut, IFI dan Kelana Swara Ambarrukmo mengkurasi lima musisi asal Jogja dengan genre beragam, yakni Autumn Hopes (emo/post-rock), Buktu (post-rock instrumental dan spoken word), The Jorans (indie rock), Akadama & the Yoyo Connections (hip-hop/rap), serta Cherish (indie pop).
Creator/Producer Kelana Swara Ambarrukmo, Daniel Bagas, mengatakan kolaborasi ini berangkat dari kesamaan visi untuk memperkuat ekosistem musik lokal. Menurutnya, Jogja memiliki banyak talenta berkualitas yang belum mendapatkan panggung yang layak.
“Kami ingin menghadirkan ruang bagi musisi yang mungkin belum banyak mendapat sorotan, padahal kualitasnya sangat potensial,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses kurasi dilakukan secara selektif, dimulai dari sekitar sepuluh kandidat sebelum akhirnya dipilih lima penampil. Selain kualitas musik, tim kurator juga mempertimbangkan identitas artistik dan kemampuan musisi dalam menyampaikan gagasan melalui karya.
Daniel menilai musik merupakan bagian dari representasi budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat. Musisi lokal, menurutnya, menjadi cerminan dinamika sosial dan pengalaman hidup di Jogja yang kemudian diterjemahkan dalam karya musik.
“Musisi adalah bagian dari budaya itu sendiri. Apa yang mereka ciptakan merefleksikan kehidupan yang mereka jalani di Jogja,” katanya.
Melalui gelaran ini, penyelenggara berharap Fête de la Musique 2026 tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang temu bagi komunitas musik, pelaku industri, dan publik. Selain itu, acara ini diharapkan membuka peluang kolaborasi lintas negara serta memperkuat posisi Jogja sebagai salah satu pusat kreativitas musik di Indonesia. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Jadwal lengkap KRL Jogja-Solo Senin 27 Juli 2026 dengan 15 perjalanan dan tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.
Imigrasi Manado menunda 24 keberangkatan PMI terindikasi TPPO hingga Juli 2026 sebagai upaya mencegah pekerja migran nonprosedural.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.