Sensus Ekonomi 2026 di DIY Gunakan AI, Ribuan Petugas Diterjunkan
Badan Pusat Statistik (BPS) menerjunkan 4.082 petugas untuk mendata sekitar 606.000 pelaku usaha di DIY melalui Sensus Ekonomi 2026
Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY, Kurniawan (ketiga dari krii), Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo (keempat dari kiri), Lurah Kalurahan Bunder, Maryadi (kedua dari kanan), dan Direktur Bumkal Bunder, Bambang Sugiyanto (pertama dari kanan) memaparkan mengenai budidaya dan mengolahan coklat di Rumah Coklat Bunder Gunungkidul dalam Rembag Kaistimewan bertema “Dari Biji Kakao Menjadi Produk Istimewa: Kisah Rumah Coklat Bunder Gunungkidul” di Kantor Paniradya./ Ist
JOGJA–Kisah sukses pengembangan kakao di Kalurahan Bunder, Kabupaten Gunungkidul, menjadi sorotan dalam kegiatan Rembag Kaistimewan bertema “Dari Biji Kakao Menjadi Produk Istimewa: Kisah Rumah Coklat Bunder Gunungkidul” di Kantor Paniradya Kaistimewan DIY, pada Kamis (18/6/2026).
Dalam forum tersebut, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY, Kurniawan, menegaskan bahwa pengembangan kakao di Bunder merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui hilirisasi produk. Menurutnya, selama ini petani hanya menjual biji kakao mentah dengan harga yang relatif rendah sehingga hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
“Selama ini mereka hanya bertani dan menghasilkan biji kakao yang kemudian langsung dijual. Harganya sangat murah sehingga hasil yang diterima petani tidak seberapa. Karena itu kami melihat perlu ada nilai tambah melalui pengolahan kakao,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dukungan yang diberikan Paniradya Kaistimewan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan berbagai produk olahan cokelat yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Kami mendukung Kalurahan Bunder mengembangkan produksi cokelat, tidak hanya menjual biji kakao tetapi juga memperoleh pendapatan yang jauh lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kurniawan menambahkan, dukungan tersebut diberikan setelah melihat potensi besar yang dimiliki Bunder. Berbagai produk olahan yang dihasilkan dinilai mampu memberikan nilai tambah signifikan dibandingkan menjual kakao dalam bentuk bahan baku.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo, menyebut Kalurahan Bunder sebagai contoh nyata keberhasilan hilirisasi komoditas pertanian. Menurutnya, kakao yang sebelumnya hanya dijual sebagai komoditas kini telah diolah menjadi beragam produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kalurahan Bunder sudah menjadi bukti nyata hilirisasi peningkatan nilai tambah. Tidak hanya komoditas yang dijual, tetapi sudah diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan harapan konsumen agar mampu bersaing di pasar.
“Kita harus bisa memanfaatkan dan menyesuaikan produk cokelat yang kita hasilkan dengan ekspektasi calon konsumen,” katanya.
Sementara itu, Lurah Kalurahan Bunder, Maryadi, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki kondisi lahan yang sangat cocok untuk budidaya kakao. Namun, pada masa awal pengembangan, pemasaran hasil panen masih menjadi tantangan karena kakao petani hanya ditampung dan dijual ke perusahaan tertentu.
Seiring meningkatnya kemampuan masyarakat, petani mulai didorong untuk mengolah hasil panen menjadi produk jadi dan memasarkannya secara langsung. Dari proses tersebut lahirlah Rumah Coklat Bunder Gunungkidul yang kini menjadi sentra edukasi dan pengolahan cokelat.
“Bahkan masyarakat dari luar Jawa datang ke Rumah Coklat untuk belajar proses penanaman hingga produksi cokelat,” ungkapnya.
Direktur Bumkal Bunder, Bambang Sugiyanto, mengatakan peningkatan nilai jual kakao dilakukan melalui edukasi berkelanjutan kepada petani, mulai dari teknik budidaya hingga pengolahan produk makanan berbahan kakao.
Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menjadikan Bunder sebagai pusat pembelajaran kakao di Indonesia.
“Ke depan kami berharap Rumah Coklat Bunder Gunungkidul dapat menjadi tempat edukasi penanaman, perawatan, panen, hingga produksi cokelat,” katanya.
Melalui pengembangan Rumah Coklat Bunder, hilirisasi kakao tidak hanya menciptakan produk bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang wisata edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Badan Pusat Statistik (BPS) menerjunkan 4.082 petugas untuk mendata sekitar 606.000 pelaku usaha di DIY melalui Sensus Ekonomi 2026
Cristiano Ronaldo tampil di bawah performa terbaik saat Portugal ditahan imbang RD Kongo 1-1 pada laga pembuka Grup K Piala Dunia 2026.
Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250, Pemkab Kulonprogo mewajibkan kepala OPD berbagi kendaraan dinas untuk menekan anggaran BBM.
Claude milik Anthropic sempat mengalami gangguan global pada 18 Juni 2026. Ribuan pengguna terdampak, Anthropic menyebut lonjakan penggunaan menjadi tantangan u
Muhamad Yusuf lolos ke perempat final Macau Open 2026 usai mengalahkan Zhu Xuan Chen. Leo/Daniel tersingkir setelah kalah dari pasangan Korea Selatan.
China menutup 12.200 program studi dan membuka 10.200 jurusan baru dalam lima tahun untuk menyesuaikan pendidikan tinggi dengan era AI dan kebutuhan industri ma