Vita Ervina Ingatkan BPJS Ketenagakerjaan Utamakan Keselamatan
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan pembentukan mental calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan harus tetap mengutamakan budaya keselamatan dan manajemen
Vita Ervina/ Istimewa
JAKARTA—Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan bahwa pembentukan mental yang tangguh bagi calon pegawai harus tetap berpijak pada prinsip keselamatan dan manajemen risiko. Pesan tersebut disampaikan menyusul perhatian publik terhadap kegiatan fire walk yang digunakan sebagai salah satu metode pembentukan karakter bagi calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan.
Menurut Vita, upaya membangun keberanian, fokus, daya juang, dan kepercayaan diri merupakan hal yang positif dalam proses pengembangan sumber daya manusia. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membentuk pegawai yang siap menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembentukan karakter tidak boleh mengabaikan prinsip keselamatan yang selama ini menjadi fondasi utama BPJS Ketenagakerjaan.
"Saya menghargai ikhtiar institusi untuk membangun keberanian, fokus, daya juang, dan kepercayaan diri. Nilai-nilai tersebut memang dibutuhkan agar setiap insan BPJS Ketenagakerjaan mampu menghadapi tantangan dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada jutaan pekerja Indonesia. Namun, pembentukan mental yang tangguh tidak boleh mengesampingkan prinsip dasar yang justru menjadi ruh BPJS Ketenagakerjaan, yaitu budaya keselamatan dan manajemen risiko," ujar Vita Ervina, Sabtu (1/8/2026).
Alumni Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut menilai BPJS Ketenagakerjaan memiliki posisi strategis sebagai lembaga yang setiap hari mengampanyekan pentingnya perlindungan pekerja dan pencegahan risiko kerja.
Karena itu, setiap aktivitas yang dilakukan lembaga tersebut, termasuk pendidikan dan pelatihan pegawai, perlu mencerminkan standar keselamatan yang tinggi dan menjadi contoh bagi masyarakat maupun dunia kerja.
Menurut Vita, perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada metode pelatihan yang digunakan, tetapi juga pada sejauh mana metode tersebut mampu meningkatkan kapasitas dan kompetensi pegawai dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang calon pegawai tidak ditentukan oleh kemampuan menjalani tantangan fisik semata, melainkan oleh kualitas integritas, profesionalisme, serta kemampuan memberikan pelayanan yang optimal kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan.
"Yang perlu menjadi perhatian bukan semata metode pelatihannya, melainkan relevansi dan dampaknya terhadap peningkatan kompetensi pelayanan publik. Ukuran keberhasilan calon pegawai tidak ditentukan oleh keberanian melewati bara api, tetapi oleh integritas dalam mengelola amanah, profesionalisme dalam bekerja, empati terhadap peserta, kecepatan dan kualitas pelayanan, serta kemampuan memastikan setiap pekerja memperoleh haknya melalui program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)," tegasnya.
Sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi ketenagakerjaan dan kesehatan, Vita menyatakan dukungan terhadap berbagai inovasi pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan lembaga maupun institusi publik.
Namun, menurut dia, setiap inovasi harus memiliki tujuan yang jelas, manfaat yang terukur, serta dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan peserta.
Vita menilai momentum ini dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi publik tidak hanya dibangun melalui simbol keberanian atau aktivitas yang bersifat seremonial, melainkan melalui budaya kerja yang profesional dan konsisten.
Budaya kerja tersebut mencakup integritas, disiplin, kemampuan mengelola risiko, serta komitmen menghadirkan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat.
"Sebagai mitra pengawas, Komisi IX DPR RI mendukung setiap inovasi pengembangan sumber daya manusia yang berbasis kebutuhan organisasi, terukur manfaatnya, dan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan," ujarnya.
Ia menambahkan, mental tangguh yang sesungguhnya tercermin dari kemampuan pegawai menjalankan tugas secara profesional, menjaga kepercayaan publik, serta memastikan masyarakat memperoleh layanan yang cepat, tepat, dan berkualitas.
Menurut Vita, fondasi itulah yang harus terus diperkuat agar BPJS Ketenagakerjaan mampu menjaga kepercayaan jutaan pekerja Indonesia yang menjadi peserta program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Dengan demikian, pengembangan karakter pegawai tidak hanya menghasilkan individu yang berani menghadapi tantangan, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan, tanggung jawab, dan pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan pembentukan mental calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan harus tetap mengutamakan budaya keselamatan dan manajemen
PSIM Jogja memulai uji coba pra-musim menghadapi Beta Jaya. Pelatih Jean-Paul van Gastel menilai energi pemain positif dan fokus membangun permainan berbasis pe
Regulator keselamatan AS menyelidiki sekitar 1,2 juta kendaraan Tesla Model 3 dan Model Y terkait dugaan kegagalan komponen suspensi yang berpotensi memengaruhi
Polresta Sleman meningkatkan penanganan dugaan kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa UAD saat KKN ke tahap penyidikan. Pemeriksaan saksi dijadwalkan berla
Uni Eropa menginvestasikan 10 miliar euro atau sekitar Rp207 triliun untuk membangun tujuh pabrik AI raksasa. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat posisi Eropa
Pemkot Jogja mendorong Koperasi Kelurahan Merah Putih menjadi agregator produk UMKM dan kebutuhan pokok. Produk dari Bantul dan Sleman berpeluang dipasarka