Modal Awal Mahal, Taj Yasin Cari Skema Pembiayaan Hijau IKM

Media Digital
Media Digital Senin, 28 September 2026 18:47 WIB
Modal Awal Mahal, Taj Yasin Cari Skema Pembiayaan Hijau IKM

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi memberikan keynote speech dalam FGD Kolaborasi Strategis bertema Mengurai Hambatan Pembiayaan Hijau pada Sektor Industri Kecil dan Menengah yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin, 28 September 2026./Istimewa-Pemprov Jateng

Harianjogja.com, SEMARANG—Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong adanya terobosan pembiayaan hijau yang lebih mudah diakses Industri Kecil dan Menengah (IKM). Langkah itu diperlukan karena investasi awal untuk beralih ke teknologi ramah lingkungan masih mahal, sementara kemampuan agunan IKM relatif terbatas.

Persoalan biaya awal tersebut menjadi salah satu perhatian Taj Yasin saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi memberikan keynote speech dalam Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Strategis bertema “Mengurai Hambatan Pembiayaan Hijau pada Sektor Industri Kecil dan Menengah”.

FGD tersebut diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin, 28 September 2026.

Menurut Taj Yasin, karakteristik IKM perlu menjadi pertimbangan dalam merancang pembiayaan hijau. Pasalnya, kemampuan agunan pelaku IKM rata-rata relatif kecil, sedangkan kebutuhan biaya untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan cukup besar.

“Industri kecil ini, IKM ini rata-rata agunannya juga kecil, sementara untuk melaksanakan industri ramah membutuhkan biaya yang besar,” kata Taj Yasin.

Teknologi Hijau Butuh Modal Besar di Awal

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu mengakui penggunaan teknologi hijau dapat memberikan manfaat berupa efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang. Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta bisa dirasakan karena investasi harus dikeluarkan sejak awal.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi IKM yang memiliki keterbatasan kemampuan pembiayaan dan agunan. Karena itu, Taj Yasin meminta hasil pembahasan dalam FGD tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat melahirkan skema atau terobosan pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik IKM.

“Ini yang harus kita dorong bersama-sama dan kita carikan terobosan-terobosan,” katanya.

Dorongan tersebut dinilai penting karena industri memiliki peran besar dalam menopang perekonomian Jawa Tengah. Dengan demikian, akses terhadap pembiayaan hijau menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing sektor industri.

Industri Jadi Penopang Ekonomi Jawa Tengah

Taj Yasin menyampaikan ekonomi Jawa Tengah mencatat pertumbuhan 5,71 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Secara kumulatif, ekonomi Jawa Tengah pada semester pertama 2026 tumbuh 5,80 persen.

Sektor industri menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah dengan kontribusi 33,18 persen. Setelahnya terdapat sektor perdagangan sebesar 13,78 persen dan pertanian 12,56 persen.

Menurut Taj Yasin, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut tidak cukup hanya dipertahankan. Pertumbuhan juga perlu diarahkan agar menghasilkan produktivitas, daya saing, kualitas lapangan kerja, serta keberlanjutan ekonomi dalam jangka panjang.

“Kita tidak cukup hanya berbicara bagaimana mempertahankan pertumbuhan, kita juga harus berbicara tentang bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan produktivitas yang lebih tinggi, daya saing yang lebih kuat, lapangan kerja yang semakin berkualitas dan keberlanjutan ekonomi dalam jangka panjang,” kata Taj Yasin.

OJK Dorong Kolaborasi Pembiayaan Hijau

Sementara itu, Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Jawa Tengah, Taufik Andriawan, mengatakan pembiayaan hijau dibutuhkan sebagai bagian dari upaya memitigasi risiko krisis lingkungan.

Pembiayaan tersebut juga dinilai penting untuk mendukung arah pembangunan Jawa Tengah 2025-2030.

Taufik mengatakan perbankan di Jawa Tengah mendukung penuh pembiayaan hijau melalui penyaluran kredit kepada sektor yang berpotensi mendukung pembiayaan hijau. Meski demikian, sejauh ini jumlah pihak yang mengajukan kredit di sektor tersebut relatif kecil.

Karena itu, peningkatan pembiayaan hijau membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi diperlukan antara pemerintah, OJK, Bank Indonesia, industri jasa keuangan, akademisi, pakar lingkungan, dan pelaku industri.

“Diperlukan sinergi dan kolaborasi dari seluruh stakeholders untuk meningkatkan potensi pembiayaan hijau di Jawa Tengah,” kata Taufik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online