Event Sepanjang Tahun Jadi Pasar bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Jogja

Media Digital
Media Digital Minggu, 04 Oktober 2026 07:32 WIB
Event Sepanjang Tahun Jadi Pasar bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Jogja

Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan dan pelaku ekonomi kreatif berfoto bersama dalam kegiatan pelantikan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) DIY di Kompleks Balai Kota Jogja, Jumat (2/10/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA - Banyaknya event yang digelar sepanjang tahun dapat menjadi pasar bagi pelaku ekonomi kreatif di Jogja. Perputaran pengunjung dalam berbagai perhelatan membuka peluang bagi UMKM, pekerja seni, hingga pelaku usaha kreatif untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.

Ketua DPW Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) DIY, Sarah Azzahra, mengatakan event memiliki pengaruh besar terhadap perputaran ekonomi karena mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat dan wisatawan. Menurutnya, geliat tersebut terlihat dari sejumlah agenda HUT Kota Jogja ke-270 tahun yang berlangsung di Jogja pada Oktober ini.

"Kalau kita bicara terkait event dan lainnya itu sangat berpengaruh. Karena memang dari kita bicara Oktober ini saja, mungkin di tanggal 3 Oktober besok sudah ada Simfoni 1001 Batik, itu juga kita mengumpulkan UMKM, asosiasi dan organisasi untuk nantinya bisa tergabung dalam acara tersebut," kata Sarah saat ditemui di Kompleks Balai Kota Jogja, Jumat (2/10/2026).

Dia mencontohkan rangkaian kegiatan pada awal Oktober yang berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan wisata. Salah satunya Malioboro Run yang menurutnya dapat meningkatkan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha di sekitar Malioboro.

Sarah mengatakan tingginya aktivitas event juga terlihat dari mobilitas wisatawan yang datang ke Jogja. Pada awal Oktober, dia menyebut tiket kereta menuju Jogja sulit didapat karena tingginya permintaan.

"Sehingga saya rasa kita berbicara di bulan Oktober, khususnya Hari Jadi Kota Jogja 270 tahun, itu juga sebagai perputaran ekonomi yang sangat baik bagi Kota Jogja sendiri, bagi UMKM, dan bagi DIY," ujarnya.

Menurut Sarah, peluang tersebut menjadi penting karena DIY memiliki basis pelaku usaha yang besar. Berdasarkan data pemerintah daerah DIY, terdapat sekitar 95.800 industri kecil menengah dan kurang lebih 420.000 unit usaha kecil menengah di DIY.

Namun, besarnya jumlah pelaku usaha belum otomatis membuat produk ekonomi kreatif mampu berkembang. Sarah menilai persoalan yang masih dihadapi pelaku usaha antara lain permodalan, branding, hingga kemampuan mengeksekusi ide menjadi produk yang bisa dipasarkan.

"Di DIY sendiri ini kita sangat banyak ide. Tantangannya adalah masih banyak teman-teman, khususnya UMKM, yang sudah punya banyak ide dan beragam, tapi dalam eksekusinya masih ada masalah permodalan dan branding," katanya.

Karena itu, Gekrafs DIY ingin berperan sebagai wadah yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif sekaligus membuka akses terhadap berbagai program dan kolaborasi. Wadah tersebut dinilai penting agar pelaku tidak berjalan sendiri ketika mengembangkan usaha.

Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Umum DPP Gekrafs, Kawendra Lukistian, mengatakan Jogja memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif karena sumber daya utamanya berasal dari ide dan gagasan. Menurut dia, berbagai subsektor seperti musik, kuliner, seni pertunjukan, tari, hingga fesyen sudah memiliki ekosistem di Jogja.

"Kita melihat bagaimana banyak sekali musisi yang luar biasa di Jogja ini. Bukan hanya dari sektor musik, kuliner, seni pertunjukan, bahkan tari-tarian, terus dari kain dan segala macam itu sudah menjadi embrio-embrio yang luar biasa untuk menggerakkan ekonomi melalui mesin pertumbuhan baru yaitu ekonomi kreatif," kata Kawendra.

Dia mengatakan potensi tersebut perlu dihubungkan dengan pasar yang lebih luas. Produk dan jasa kreatif dari Jogja, menurutnya, perlu dikurasi agar pelaku dengan kualitas terbaik dapat memanfaatkan jejaring nasional maupun internasional.

Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, mengatakan posisi Jogja sebagai kota yang tidak memiliki banyak sumber daya alam membuat sumber daya manusia dan industri kreatif menjadi salah satu kekuatan utama daerah. Karena itu, dia ingin Jogja tidak sekadar memiliki banyak pelaku kreatif, tetapi juga menjadi contoh pengembangan industri kreatif di tingkat nasional.

"Harapan kami sebetulnya kan, kami di Jogja ini cuma butuh pemantik. Pemantik dalam arti dari segi ada yang membantu kapitalnya, membantu edukasi, masalah-masalah yang bisa kita tingkatkan menjadi skill up," kata Wawan.

Wawan menilai pengembangan ekonomi kreatif perlu diarahkan pada langkah konkret agar pelaku usaha kecil dapat naik kelas. Event yang berlangsung sepanjang tahun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan karya, pasar, wisatawan, dan pelaku usaha dalam satu ekosistem.

Menurut dia, batas wilayah administrasi juga tidak semestinya menjadi penghalang pengembangan ekosistem tersebut. Industri kreatif dan pariwisata dinilai bersifat lintas wilayah sehingga potensi Jogja perlu dihubungkan dengan ekosistem DIY, nasional, hingga pasar global.

Penguatan ekosistem itu juga menyasar kalangan mahasiswa. Gekrafs Kampus Nasional tengah memperluas pembentukan organisasi di sejumlah kampus untuk menjadi wadah mahasiswa yang memiliki usaha maupun ide bisnis di sektor ekonomi kreatif.

Gekrafs Kampus Nasional, Hijaz Putra Junaidi Mahesa, mengatakan banyak mahasiswa sebenarnya memiliki kepedulian terhadap ekonomi kreatif, tetapi masih membutuhkan wadah untuk mengembangkan gagasannya. Pendataan mahasiswa yang memiliki usaha juga disiapkan agar potensi tersebut dapat dipetakan dan dikembangkan.

"Memang banyak anak muda yang peduli akan ekonomi kreatif, namun masih bingung wadahnya apa. Nah, Gekrafs Kampus hadir untuk menjadi wadah tersebut," ujarnya.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online