Pentingnya Literasi untuk Membaca Fenomena dan Menangkap Peluang Pasar
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas potensi pariwisata, dampak viralitas terhadap usaha, serta pentingnya literasi digital dan budaya membaca
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman (berdiri), menyampaikan materi dalam bedah buku yang digelar di Pendopo Punakawan, Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kamis (22/10)./ Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono
JOGJA - Berdagang tidak bisa hanya dipandang sebagai aktivitas jual beli. Ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan perdagangan. Dengan memahami ancaman dan potensi yang ada, pedagang dapat meraih keuntungan maksimal. Selain itu, sarana perdagangan terus berkembang seiring masifnya penggunaan teknologi digital. Strategi berdagang secara tatap muka atau luar jaringan (luring) pun berbeda dengan strategi melalui platform daring.
Perwakilan Penerbit Best Publisher, Laksamana Naufal, membahas persoalan tersebut dalam acara Bedah Buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM di Pendopo Punakawan, Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kamis (22/10). Dalam acara yang digagas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY itu, Naufal menjelaskan fenomena kepariwisataan suatu daerah dapat menjadi pijakan bagi pengembangan pariwisata di daerah lain. Prinsip amati, tiru, dan modifikasi dapat diterapkan dengan mengintegrasikan potensi lokal.
Dia mencontohkan kawasan wisata Malioboro yang menjadi ikon Kota Jogja. Kawasan yang tertata dengan mengedepankan akses ramah pejalan kaki itu menjadi inspirasi pengembangan kawasan wisata Kayutangan Heritage di Kota Malang, Jawa Timur.
“Nama kawasan memang Kayutangan, tetapi julukan populernya ‘Malangboro’. Kawasan ini memang dibangun mirip Malioboro,” kata Naufal, Kamis.
Dalam buku tersebut, penulis juga membahas fenomena hotel murah. Hotel berbintang ditawarkan dengan harga Rp200.000 per malam. Harga yang kompetitif ini menjadi daya tarik bagi wisatawan dan mendorong investor berbondong-bondong menanamkan modal.
Namun, Naufal mengajak masyarakat untuk mencermati dampak pertumbuhan properti dengan harga kompetitif tersebut. Di satu sisi, investasi berkembang, tetapi di sisi lain harga tanah meningkat dan masyarakat belum tentu merasakan manfaatnya secara langsung.
“Maka perlu mengetahui fenomena semacam itu sehingga kita bisa membuat pemetaan. Misalnya, Pemkot bisa terlibat dalam mengontrol pertumbuhan properti dan kenaikan harganya,” katanya.
Sementara itu, praktisi pariwisata dan UMKM, M. Andri Perdana, menyampaikan pandangannya terhadap buku tersebut dari sisi berbeda. Dia menyoroti bagaimana teknologi turut memperkuat penyebaran suatu fenomena.
Andri menilai fenomena viral tidak selalu memberikan dampak positif. Bahkan, viralitas berpotensi menimbulkan risiko bagi pelaku usaha dan sektor pariwisata.
Dalam pemaparannya, Andri mengangkat fenomena viralitas Bolosego sebagai salah satu contoh untuk menjelaskan pentingnya literasi masyarakat dalam menyikapi informasi yang ramai diperbincangkan di ruang digital. Menurut dia, fenomena viral perlu dilihat secara lebih luas, terutama dari sudut pandang pelaku UMKM yang berkaitan langsung dengan aktivitas pariwisata.
Masyarakat perlu memahami bahwa viralitas dapat membawa konsekuensi terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk keberlangsungan usaha dan citra destinasi wisata.
Berpikir Runtut
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, menekankan pentingnya budaya membaca untuk membangun pola pikir sistematis sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Membaca tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga melatih seseorang untuk berpikir secara runtut, menentukan prioritas, dan memutuskan pekerjaan yang perlu dilakukan terlebih dahulu.
“Membaca sama dengan berpikir sistematis. Memutuskan apa yang perlu kita kerjakan lebih dulu. Prioritas. Berpikir runtut,” kata Budi.
Dia juga menyoroti pentingnya daftar pustaka dalam sebuah buku. Keberadaan daftar pustaka memungkinkan pembaca menelusuri sumber informasi yang digunakan penulis sehingga asal-usul dan kejelasan informasi dapat diperiksa.
Menurut Budi, kemampuan menelusuri sumber informasi semakin penting pada era digital. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan mengakses informasi secara cepat, termasuk menjangkau orang lain di luar negeri hanya dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa melimpahnya informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi sebelum memercayai atau menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mendorong masyarakat meningkatkan minat baca melalui kebiasaan membaca yang dapat ditularkan kepada orang lain.
Upaya meningkatkan minat baca di Yogyakarta membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat yang telah memiliki kebiasaan membaca. Keteladanan dalam membaca diharapkan dapat mendorong orang lain melakukan hal serupa.
“Bapak ibu seumpama membaca bisa menularkan ke orang lain,” kata Hadi.
Hadi mengakui setiap kelompok usia memiliki prioritas yang berbeda. Masyarakat seusianya, misalnya, mungkin memiliki kesibukan dan kepentingan lain. Meski demikian, kebiasaan membaca tetap dapat menjadi contoh bagi orang lain. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas potensi pariwisata, dampak viralitas terhadap usaha, serta pentingnya literasi digital dan budaya membaca
Simak daftar harga iPhone Duo 256 GB hingga 2 TB, pilihan warna, spesifikasi layar, kamera, dan informasi ketersediaannya di Indonesia.
Indonesia masuk lima besar negara dengan frekuensi mandi tinggi menurut Seasia Stats. Simak daftar 11 negara dan faktor yang memengaruhi kebiasaan mandi.
Simak jadwal tayang dan sinopsis lima film Indonesia terbaru pada Oktober-November 2026, dari Laut Bercerita hingga People Pleaser.
Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menilai kekalahan timnya atas Persik Kediri tak lepas dari faktor ketidakberuntungan dan kelengahan di lini pertahanan. Ia j
PHP2Shell bisa memungkinkan peretas menjalankan kode di server tanpa login. Simak dampak, tanda kompromi, dan langkah pengamanan website.