BPS Lakukan Ubinan Palawija di Sleman, Pastikan Akurasi Data Produktivitas Pertanian
BPS melakukan ubinan palawija di Sleman untuk mengukur produktivitas jagung, kacang-kacangan, dan ubi jalar sebagai dasar penghitungan estimasi produksi pertani
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman (berdiri), menyampaikan materi dalam acara bedah buku yang digelar di Balai RW Notoprajan, Kemantren Ngampilan, Kota Jogja, Jumat (23/10). Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono.
JOGJA - Budaya pakewuh atau perasaan tidak enak terhadap orang lain dapat menjadi hambatan bagi pelaku usaha dalam menjalankan bisnis. Sikap tersebut berisiko membuat pedagang kesulitan bersikap tegas, termasuk dalam menetapkan harga, menagih pembayaran, dan menghadapi konsumen.
Hal tersebut disinggung dalam acara bedah buku Panduan Bisnis Online yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Balai RW Notoprajan, Kemantren Ngampilan, Kota Jogja, Jumat (23/10).
Perwakilan penerbit buku, Fauzia Kamila Hayati, mengingatkan pelaku usaha agar mengurangi sikap pakewuh dalam menjalankan bisnis. Menurutnya, berdagang membutuhkan ketegasan agar pelaku usaha tidak terus-menerus mengalah hingga berpotensi mengalami kerugian.
Budaya pakewuh dapat membuat pelaku usaha merasa sungkan ketika harus menyampaikan harga secara terbuka atau menolak permintaan konsumen yang tidak sesuai dengan ketentuan usaha.
“Kejelasan harga dan batasan transaksi merupakan bagian penting dalam menjalankan bisnis,” kata Fauzia, Jumat.
Dia juga menekankan pentingnya mencantumkan harga dan memberikan informasi produk secara jelas kepada calon pembeli. Dengan begitu, konsumen dapat mengetahui produk yang ditawarkan sekaligus mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
Pelaku usaha juga perlu memahami karakteristik target pasar sebelum menentukan harga. Dia mencontohkan penjualan rice bowl dengan harga tinggi di desa yang belum tentu mendapatkan pembeli. Sementara itu, produk serupa berpeluang memiliki pasar berbeda ketika ditawarkan di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, Fauzia mendorong pelaku usaha memanfaatkan media sosial, seperti WhatsApp dan TikTok, untuk memperluas jangkauan pemasaran. Pelaku usaha dapat memulai promosi melalui fitur status WhatsApp, kemudian mengembangkan strategi pemasaran menggunakan platform lain.
Konsistensi dalam membuat konten, pemahaman terhadap target pasar, upaya membangun kepercayaan konsumen, serta menjaga kualitas produk juga menjadi faktor penting dalam pemasaran digital.
“Tidak perlu takut juga produk kita ditiru oleh pihak lain,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, menekankan pentingnya membangun persepsi yang tepat dalam aktivitas perdagangan. Informasi yang belum terverifikasi dapat membentuk persepsi masyarakat dan berdampak langsung terhadap kondisi pasar.
Sebagai contoh, kabar mengenai potensi kelangkaan bahan pokok dapat memicu kepanikan masyarakat. Ketika kabar tersebut dipercaya begitu saja, masyarakat bisa berbondong-bondong membeli dan menimbun barang sehingga memicu kelangkaan yang sebelumnya belum tentu terjadi.
Persepsi yang terbentuk akibat informasi keliru dapat merugikan pedagang maupun konsumen. Situasi pasar yang semula normal bisa terganggu ketika masyarakat bereaksi berdasarkan kabar yang belum dipastikan kebenarannya.
Oleh karena itu, politikus Partai Gerindra tersebut mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan menyaring informasi sebelum mengambil keputusan, termasuk dalam kegiatan jual beli.
Adapun praktisi UMKM, Farhan Acha, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. Digitalisasi dinilai penting seiring perubahan kebiasaan konsumen yang semakin banyak beralih ke platform digital.
Pelaku UMKM, kata dia, perlu meninggalkan ketergantungan pada cara berjualan konvensional dan memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk.
“Kalau memang mengharapkan cara-cara lama, itu sudah ketinggalan zaman. Pembeli juga sudah banyak yang beralih ke teknologi,” kata Farhan.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Hari Setiawan, mengakui masih terdapat pelajar tingkat SMA yang belum bisa membedakan opini dan fakta ketika menarasikan suatu hal, termasuk komoditas dagang.
“Bahkan masih ada juga yang kesulitan mengambil ide pokok sebuah bacaan,” kata Hari.
Padahal, kemampuan tersebut penting karena pemasaran komoditas dagang selalu disertai narasi yang dapat memengaruhi persepsi konsumen. Dia mencontohkan produk kecap yang memiliki komposisi berbeda, termasuk penggunaan gula sebagai salah satu bahan penyusunnya.
Oleh karena itu, kemampuan literasi membaca dan digital perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat memahami informasi produk secara kritis sekaligus mendukung pelaku UMKM dalam memasarkan barang secara tepat. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPS melakukan ubinan palawija di Sleman untuk mengukur produktivitas jagung, kacang-kacangan, dan ubi jalar sebagai dasar penghitungan estimasi produksi pertani
Harga emas Pegadaian Sabtu (24/10/2026) bervariasi untuk Antam, Galeri 24, dan UBS. Simak harga jual dan buyback berbagai ukuran.
Cek jadwal perpanjangan SIM Kulonprogo 24 Oktober 2026 di MPP, lengkap dengan jadwal Satpas 1450, SIMENOR, SIM Keliling, dan syaratnya.
Prestasi siswa tak hanya diukur dari keberhasilan masuk PTN. Perguruan tinggi swasta (PTS) juga menawarkan pendidikan berkualitas dan peluang ber
Kemenkeu menilai kepercayaan investor SBN masih terjaga meski yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 7,4% di tengah gejolak pasar.
Pemprov Jawa Tengah menutup sementara jalur pendakian lima gunung menyusul karhutla di Lawu, Sumbing, dan Pakuwaja. Kebakaran Lawu mencapai 230 hektare.