Jelang Musim Hujan, PLN Minta Warga Jogja Waspadai Gangguan Jaringan Listrik
PLN UID Yogyakarta mengajak masyarakat menjaga lingkungan sekitar jaringan listrik dan melaporkan potensi gangguan menjelang musim hujan 2026/2027.
Jajaran Direksi Telkom pada RUPSLB Telkom 2026, beberapa waktu lalu./Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut tumbuh 3,5% secara tahunan atau year-on-year (YoY), didukung pertumbuhan bisnis Data, Internet & IT Services serta kontribusi positif empat segmen bisnis utama.
Kinerja tersebut dicapai di tengah dinamika industri telekomunikasi sekaligus berlanjutnya pelaksanaan transformasi TLKM 30. Hingga sembilan bulan pertama 2026, pendapatan bisnis Data, Internet & IT Services mencapai Rp71,5 triliun atau meningkat 8,3% YoY.
Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp55,5 triliun, tumbuh 2,0% YoY, dengan margin EBITDA 48,9%. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat Rp14,4 triliun dengan margin laba bersih 12,7%.
Adapun laba bersih normalisasi meningkat 3,9% YoY menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6%.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perseroan terus menjalankan arah strategis TLKM 30. Fokus transformasi diarahkan pada penguatan bisnis inti dan pelaksanaan perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi perusahaan.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang.
Pada segmen B2C yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5% YoY. Sementara itu, Telkomsel mencatat pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8% YoY.
Pertumbuhan Telkomsel terutama ditopang bisnis digital yang mencapai Rp60,7 triliun atau naik 7,7% YoY. Pencapaian tersebut didukung pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, serta penerapan strategi komersial yang disiplin untuk memperkuat monetisasi layanan seluler.
Seiring perubahan pola konsumsi pelanggan menuju layanan digital, rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) seluler Telkomsel meningkat 7,1% YoY menjadi Rp45.400. Data yield juga tumbuh 6,5% YoY.
Di sisi lain, pendapatan bisnis IndiHome tercatat Rp19,1 triliun, salah satunya seiring penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2% QoQ menjadi Rp217.700.
Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp7,1 triliun. Pertumbuhan ini didukung layanan pusat data atau data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur TelkomGroup.
Mitratel membukukan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan FTTT sebesar Rp7,01 triliun, meningkat 1,8% YoY. Perusahaan tersebut juga mencatat EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun. Margin EBITDA dan margin laba bersih masing-masing tercatat stabil pada level 82,9% dan 22,2%.
Sementara itu, NeutraDC mencatat pertumbuhan pendapatan 17% YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA perusahaan tersebut meningkat 35% YoY dengan margin EBITDA mencapai 40,9%.
Pertumbuhan NeutraDC ditopang kontribusi pusat data di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan dan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui layanan Neutra Compute.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas pusat data hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). Untuk mendukung rencana tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kemampuan teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Segmen B2B ICT membukukan pendapatan Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1% YoY. Salah satu penggerak pertumbuhannya adalah bisnis usaha kecil dan menengah atau Small Medium Enterprises (SME), yang mencatat kenaikan pendapatan 10,2% YoY menjadi Rp3,3 triliun.
Peningkatan tersebut didorong pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9% YoY menjadi 771.100 pelanggan. Selain itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga tumbuh 6,2% YoY.
Segmen International turut mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,8% YoY menjadi Rp8,9 triliun. Kontribusi utama berasal dari pendapatan jaringan yang meningkat 50,2% YoY menjadi Rp1,37 triliun, seiring penguatan layanan konektivitas internasional bagi perusahaan global hyperscalers dan global carriers.
Untuk memperkuat infrastruktur digital lintas negara, Telin terus mengembangkan jaringan kabel laut. Salah satunya melalui proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026 serta proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan tersebut turut mendukung posisi Batam sebagai pusat kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas pusat data NeutraDC.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” tambah Nanang.

Selain menjaga pertumbuhan bisnis, Telkom melanjutkan transformasi melalui inisiatif TLKM 30. Program tersebut memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Transformasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi proses dan kualitas layanan, memfokuskan portofolio pada bisnis inti, mengoptimalkan nilai aset melalui monetisasi dan kemitraan strategis, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding.
Dalam pilar Operational & Service Excellence, TelkomGroup menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung efisiensi operasional, keberlanjutan investasi, serta kualitas layanan.
Pengelolaan arus kas juga dilakukan di tengah penyesuaian pembayaran operasional dan karyawan, termasuk pembayaran terkait program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP). Program tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk struktur organisasi yang lebih efektif dan produktif.
Pada pilar Streamlining, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas hingga kuartal III 2026. Penataan tersebut mencakup divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.
Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun. Rasio capex terhadap pendapatan atau capex-to-revenue ratio tercatat 13,8%.
Sebanyak 94,3% belanja modal dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperluas kapabilitas konektivitas digital.
Nanang mengatakan penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi bagian penting dalam transformasi perusahaan.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.”
Dalam pilar Unlock Value, salah satu pencapaian penting Telkom adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui langkah tersebut, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia. Aset itu selanjutnya dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.
Model tersebut memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
Telkom optimistis dapat mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026. Perseroan juga menyatakan akan terus meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan melalui pengembangan inovasi serta kapabilitas perusahaan.
“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” kata Nanang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PLN UID Yogyakarta mengajak masyarakat menjaga lingkungan sekitar jaringan listrik dan melaporkan potensi gangguan menjelang musim hujan 2026/2027.
Hujan sedang hingga deras memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Malang. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
BPS mencatat pengeluaran wisman mencapai Rp24,74 juta per kunjungan pada triwulan III/2026, naik 5,95% secara tahunan.
Kunjungan wisata Sleman mencapai 7,1 juta orang hingga September 2026. Dinpar memproyeksikan PAD bisa melampaui target Rp403,5 miliar.
IAGI menggelar PIT ke-55 dan GEOSEA XIX di Jogja pada 2–5 November 2026, membahas sumber daya geologi, mitigasi bencana, dan geoheritage.
BPS mencatat inflasi tahunan 3,23% pada Oktober 2026. Harga bensin, tiket pesawat, dan sejumlah bahan pangan menjadi pendorongnya.