Advertisement
Podcast DPRD DIY Bahas Gotong Royong dan Kemandirian Ekonomi
Podcast bertajuk Menghidupkan Kembali Semangat Kemandirian Ekonomi Melalui Budaya Gugur Gunung, Jumat (13/3/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
JOGJA—Anggota Komisi A DPRD DIY, Akhid Nuryati, menilai budaya gotong royong dapat menjadi kunci kemandirian ekonomi masyarakat di tengah tekanan fiskal yang sedang dihadapi negara. Menurutnya, nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun tersebut tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan dan ekonomi saat ini.
Pandangan tersebut disampaikan Akhid Nuryati dalam Podcast DPRD DIY bertajuk Menghidupkan Kembali Semangat Kemandirian Ekonomi Melalui Budaya Gugur Gunung yang digelar pada Jumat (13/3/2026). Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai solusi menghadapi keterbatasan fiskal pemerintah.
Advertisement
“Apalagi di tengah saat ini kondisi keuangan negara, hari ini kita siaga satu defisit ya. Bagaimana kita sudah diberi warisan gotong royong oleh nenek moyang kita terdahulu, kemudian kita implementasikan dalam kehidupan riil sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Akhid Nuryati, semangat gotong royong memungkinkan masyarakat tetap menjalankan berbagai program pembangunan meskipun kemampuan fiskal pemerintah terbatas. Kondisi tersebut juga dirasakan hingga tingkat desa yang saat ini menghadapi berbagai keterbatasan anggaran.
BACA JUGA
Ia mencontohkan sejumlah daerah di DIY yang masih menjalankan program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat melalui budaya gotong royong. Di Kota Jogja, misalnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menggagas beberapa program yang melibatkan keterlibatan langsung masyarakat.
“Terbukti dengan Mas Jos itu kan juga implementasi dari gotong royong. Kemudian Pak Hasto hari ini masih ada program bedah rumah di kota, pengelolaan sampah dengan memilah, kemudian mendatangkan pekerja untuk mengambil sampah itu, itu kan bentuk implementasi dari gotong royong,” ucapnya.
Selain di Kota Jogja, pendekatan pembangunan berbasis gotong royong juga diterapkan di Kabupaten Gunungkidul melalui berbagai program yang melibatkan partisipasi masyarakat.
“Mbak Endah Subekti di Gunungkidul juga menerapkan program budaya gotong royong, baik yang bedah rumah maupun program padat karya yang berkaitan dengan infrastruktur jalan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa program padat karya berbasis swadaya masyarakat mampu menghasilkan pembangunan infrastruktur dengan biaya yang relatif terbatas.
“Terbukti program padat karya dengan anggaran hanya 100 juta itu sudah bisa membangun infrastruktur jalan cor blok berapa meter yang itu swadaya masyarakat dan gotong royong,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya bekerja untuk memperoleh upah, tetapi juga memberikan kontribusi berupa tenaga dan material sehingga kualitas pembangunan dapat melebihi rencana awal.
Namun demikian, Akhid Nuryati menilai pendekatan pembangunan berbasis gotong royong masih menghadapi tantangan dari sisi tata kelola serta regulasi yang berlaku dalam sistem pemerintahan.
“Di sini tingkat kesulitannya adalah bagaimana hal-hal seperti itu bukan dipermaklumi oleh auditor, tapi tata kelola pemerintahan harus melihat bagaimana program itu tidak berhenti pada output saja, tapi juga benefit dan impact-nya,” ujarnya.
Gotong Royong sebagai Modal Sosial Ekonomi
Sementara itu, dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma’ruf, menilai budaya gotong royong merupakan modal sosial yang sangat penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kita tahu bahwa gotong royong itu modal sosial. Modal sosial yang tumbuh di Indonesia itu budaya timur sebenarnya paling kuat karena manusia pada hakikatnya punya kecenderungan untuk bekerja sama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa nilai gotong royong perlu terus dipelihara agar tidak tergerus oleh berbagai kepentingan yang dapat melemahkan solidaritas sosial masyarakat.
“Kadang-kadang gotong royong juga dimanipulatif atau disingkirkan oleh kepentingan tertentu. Harusnya kita sadar bahwa ini modal sosial yang harus diuri-uri dan terus dikembangkan,” ujarnya.
Menurut Ahmad Ma’ruf, kemandirian ekonomi pada dasarnya berawal dari sikap mental masyarakat untuk saling membantu serta memanfaatkan potensi yang dimiliki secara optimal.
“Jadi satu model ekonomi di mana pelakunya itu untuk self-help, menolong diri sendiri. Bukan berarti anti pihak lain, tapi semangatnya memanfaatkan potensi yang ada, baik sumber daya manusia, alam, maupun teknologi,” katanya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
Advertisement
Buruh Rokok DIY Tolak Rencana Pemangkasan BLT Dana Bagi Hasil Cukai
Advertisement
Obesitas Anak Terus Meningkat Secara Global, Ini Penjelasannya
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





