Advertisement
BEDAH BUKU DPAD DIY: Pencegahan Stunting Harus Dilakukan sejak Remaja
Suasana pelaksanaan bedah buku berjudul Nutrisi Penting Cegah Stunting yang digelar di Padukuhan Sumur, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Selasa (7/4/2026) David Kurniawan - Harian Jogja
Advertisement
Masyarakat diminta turut berperan dalam upaya pencegahan stunting sejak remaja. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik saat menjadi pembicara acara Bedah Buku berjudul Nutrisi Penting Cegah Stunting yang digelar di Perdukuhan Sumur, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Selasa (7/4/2026).
“Stunting harus dicegah karena menjadi permasalahan, baik bagi anak maupun orang tua. Stunting berdampak pada tumbuh kembang maupun tingkat kecerdasan anak,” kata Gus Im, sapaan akrabnya.
Advertisement
Dia menjelaskan, program penanggulangan stunting sejatinya tidak digagas pada periode pemerintahan saat ini. Program itu sudah menjadi prioritas sejak masa kepemimpinan Presiden Jokowi dan dilanjutkan Presiden Prabowo. “Sekarang programnya ada yang lewat Makan Bergizi Gratis untuk ibu hamil dan balita. Sebelumnya, ada Program Makanan Tambahan [PMT] untuk peningkatan gizi untuk mencegah stunting,” katanya.
Politikus PKS ini menambahkan, pencegahan stunting tidak hanya dengan memberikan makanan bergizi bagi balita maupun ibu hamil. Tetapi berdasarkan hasil dari kajian yang telah dilakukan, upaya pencegahan sudah dilakukan sejak masih muda, khususnya bagi remaja putri.
BACA JUGA
Program yang dijalankan, salah satunya, kata dia, yakni dengan memastikan para remaja ini tidak mengalami kekurangan zat besi yang menyebabkan terjadinya anemia atau kurang darah. “Kalau sering kurang darah pada remaja putri, maka bisa menyebabkan terjadinya stunting pada saat memiliki anak. Makanya, harus dilakukan pencegahan dengan rutin minum tablet penambah darah,” katanya.
Ditambahkan Gus Im, program bedah buku ini tidak hanya untuk menambah wawasan dan pengetahuan berkaitan dengan pencegahan stunting, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan minat baca di masyarakat. “Buku merupakan jendela ilmu, maka gerakan ini harus didukung untuk meningkatkan minat baca sehingga pengetahuan dan wawasan yang dimiliki juga ikut bertambah,” katanya.
Senada, Pustakawan Utama, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Budiyono mengatakan tingkat membaca di Indonesia secara umum masih rendah karena dari 1.000 orang yang rutin membaca hanya satu orang.
Meski begitu, DIY, kata dia, memiliki tingkat kegemaran yang lebih baik. Pasalnya, dari 1.000 orang, yang rutin membaca ada sebanyak 49 orang. “Apapun itu, budaya literasi dan membaca harus terus ditingkatkan,” katanya.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan melaksanakan bedah buku di Padukuhan Sumur, Giripurwo, Purwosari. “Bedah buku terselenggara berkat kerja sama dengan DPRD DIY,” katanya.
Salah seorang peserta bedah buku, Wiyanto mengaku senang dengan acara ini. Dia mengaku mendapatkan tambahan wawasan berkaitan dengan upaya pencegahan stunting di dalam buku yang diberikan saat acara berlangsung.
“Buku ini bagus dan isinya juga mudah dipahami. Nanti bukunya akan saya berikan ke anak agar ikut belajar sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan stunting,” katanya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tiket Pesawat Dibatalkan? Begini Cara Refund Uangnya
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
Advertisement
Penumpang YIA Dipantau Ketat, Cegah Penularan Virus Nipah
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement








