Advertisement
Optimalkan Pengelolaan Sampah Jadi Cuan Melalui Desa Prima
Kabid Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan, Nugraha Wahyu Winarma (kiri); Kabid Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, Rofiqoh Widyastuti (kedua kiri); Gender Champion yang juga Direktur Bank Sampah Gemah Ripah Badegan Bantul, Bambang Suwerda (kedua kanan); dan Ketua Subunit Pengelolaan Sampah Kelompok Desa Prima Mutiara Selatan, Suwarni (kanan), dalam Rembag Kaistimewan yang disiarkan langsung melalui YouTube Paniradya Kaistimewan dari Teras Malioboro Beskalan, Jumat (10/4 - 2026). / ist
Advertisement
JOGJA—DIY memiliki 169 kalurahan yang menjadi Desa Prima. Di kalurahan-kalurahan tersebut, perempuan diberdayakan untuk mengolah potensi yang dimiliki, termasuk pengolahan sampah guna mendatangkan keuntungan ekonomi.
Hal ini dilakukan oleh Kelompok Desa Prima Mutiara Selatan yang mengolah sampah dari aktivitas wisata di Parangtritis, Bantul. Ketua Subunit Pengelolaan Sampah Kelompok Desa Prima Mutiara Selatan, Suwarni, menjelaskan inisiatif ini berawal dari banyaknya sampah di Parangtritis.
Advertisement
Sampah-sampah tersebut jika tidak ditangani dengan serius dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Maka, kami dari Desa Prima berusaha menjadi pengelola sampah. Harapannya lingkungan jadi bersih dan menjadi tambahan pemasukan. Kegiatan ini sudah dimulai sejak 25 November 2025 hingga hari ini,” ujarnya dalam Rembag Kaistimewan yang disiarkan langsung melalui YouTube Paniradya Kaistimewan dari Teras Malioboro Beskalan, Jumat (10/4/2026).
BACA JUGA
Kelompok ini memiliki total 33 anggota, dengan tujuh orang tergabung dalam Subunit Pengelolaan Sampah.
“Kami ada pembagian tugas. Ada yang mengambil dari dropbox atau nasabah, lalu dibawa ke TPS. Di sana sampah langsung dipilah. Hasil pilahnya sementara langsung dijual. Ke depan rencana kami akan mencacah sampah terlebih dahulu,” ungkapnya.
Program pengelolaan sampah ini mendapat dukungan dari Dana Keistimewaan melalui bantuan sarana dan prasarana.
“Dari Dana Keistimewaan kemarin kami mendapat bantuan dropbox sampah, tempat sampah, alat pencacah, dan keranjang sampah,” paparnya.
Kabid Kualitas Hidup Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Rofiqoh Widyastuti, menuturkan Desa Prima Mutiara Selatan sebagian besar anggotanya adalah ibu-ibu yang berjualan di Pantai Parangtritis dan Depok.
“Mereka melihat setiap hari ada sampah-sampah yang selama ini tidak terolah. Mereka sebelumnya sudah didampingi oleh DLHK, tetapi masih sebatas tahap mengumpulkan,” katanya.
DP3AP2 DIY yang didukung Dana Keistimewaan kemudian mengembangkan potensi tersebut dengan membuat titik-titik strategis untuk pengumpulan sampah.
“Kami ingin mengawal dari hulu sampai hilir. Jadi dari mengumpulkan sampah sampai ada yang membeli,” ungkapnya.
DP3AP2 juga mengajarkan pentingnya pemasaran kepada para anggota.
“Nek ming gawe tok ora iso masarke percuma. Termasuk untuk urusan sampah, kami buka dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
Kabid Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan, Nugraha Wahyu Winarma, mengatakan Desa Prima diharapkan dapat menghasilkan manfaat besar, baik secara ekonomi maupun kesehatan lingkungan.
“Karena kalau berbicara sampah pasti terkait dengan kesehatan. Apalagi Parangtritis adalah pusat wisata Jogja. Sampah menjadi salah satu permasalahan di daerah wisata. Kalau sampahnya banyak, akan mengurangi jumlah wisatawan,” ujarnya.
Dana Keistimewaan juga berkontribusi dalam pengelolaan sampah di DIY melalui berbagai skema.
“Kami memiliki Bantuan Keuangan Khusus (BKK) terkait persampahan. Di Bantul, kami pernah menyasar tiga kelurahan melalui urusan kebudayaan, dan beberapa kelurahan lain melalui urusan tata ruang untuk mengembangkan pengelolaan sampah,” paparnya.
Gender Champion yang juga Direktur Bank Sampah Gemah Ripah Badegan Bantul, Bambang Suwerda, menyampaikan berdasarkan pengalaman 18 tahun, pengelolaan sampah dapat memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan.
“Ternyata jika dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai luar biasa, atau yang disebut circular economy. Dulu nasabah kami hanya satu RT, sekarang sudah sekitar 2.500 nasabah, baik individual maupun komunal. Ada SD, SMP, puskesmas, hingga rumah sakit non-medis. Mereka menabung sampah dan mendapatkan nilai ekonomis,” ujarnya.
Bank sampah tersebut juga mendampingi kalurahan-kalurahan yang ingin mengembangkan sistem serupa, termasuk di Parangtritis. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tiket Pesawat Dibatalkan? Begini Cara Refund Uangnya
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
Advertisement
Tahapan Pilihan Lurah Gunungkidul Akan Dimulai Akhir Mei 2026
Advertisement
Tak Selalu Aman Minuman Ini Dikaitkan dengan Gangguan Detak Jantung
Advertisement
Advertisement
Advertisement




