Merapi Erupsi Lagi, Kemungkinan Gabungan Freatik dan Magmatik
Merapi kembali mengalami letusan pada Rabu (23/5/2018) dini hari. Letusan kali ini dimungkinkan merupakan gabungan antara freatik dan magmatik.
Merapi kembali mengalami letusan pada Rabu (23/5/2018) dini hari. Letusan kali ini dimungkinkan merupakan gabungan antara freatik dan magmatik.
Usai erupsi freatik Gunung Merapi yang terjadi pukul 03.31 WIB (23/5/2018) sebagian warga lereng Merapi berinisiatif mengungsi. Sebanyak 55 warga terdiri dari usia rentan masih menempati tempat pengungsian.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, bermukim di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III adalah sesuatu yang berbahaya. Namun, karena mobilitas masyarakat agak sulit untuk diatur, hingga kini daerah rawan masih tetap ada penghuninya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana mengatakan, setelah adanya erupsi susulan pukul 01.47 WIB, Selasa (22/5/2018), warga sekitar Gunung Merapi berbondong-bondong mengungsi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan status waspada Gunung Merapi bukanlah 'harga mati'. Status gunung itu bisa saja diturunkan jadi normal kembali, atau sebaliknya bisa ditingkatkan jadi siaga, tergantung situasi yang berkembang. Pada status waspada, evakuasi warga belum diperlukan
BPPTKG berpesan pada masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada
Balai Penelitian Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memaparkan kondisi terkini dari Gunung Merapi dengan rekaman data terakhir pukul 12.00 WIB
Pemkab Magelang segera melakukan upaya menanggapi kenaikan status Gunung Merapi dari normal menjadi waspada.
Warga Desa Glagaharjo Cangkringan Sleman yang mengungsi di Balai Desa Glagaharjo pada Senin (21/5/2018) malam kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Warga yang mengungsi sudah bisa beraktifitas seperti sebelumnya.
Harian Jogja edisi Selasa (22/5/2018)