Usai Erupsi Merapi, Satwa Dimungkinkan Masuk Permukiman, Warga Diminta Bijaksana
Usai erupsi freatik Gunung Merapi, satwa liar di area Merapi dimungkinkan memasuki permukiman.
Usai erupsi freatik Gunung Merapi, satwa liar di area Merapi dimungkinkan memasuki permukiman.
Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menambah bantuan berupa bahan pangan dan family kit untuk posko pengungsian utama di Pakem, Sleman. Bantuan ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila warga di pengungsian terutama lansia membutuhkan stok lebih banyak.
Merapi kembali mangalami erupsi pada Rabu (23/5/2018) dini hari. Namun, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan hingga saat ini belum menemukan indikasi letusan magmatik di Gunung Merapi.
Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS) Yoga Nugroho mengatakan untuk memonitor perkembangan Gunung Merapi relawan mendirikan posko penanggulangan bencana erupsi Merapi di Kantor Kecamatan Pakem.
Naiknya status Gubung Merapi dari level normal ke waspada sejak terjadi letusan Senin membuat warga sekitar lereng Merapi waspada. Setiap malam, selain ronda, sebagian barak pengungsian digunakan oleh warga untuk titik kumpul.
Dari hasil pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Rabu (23/5/2018), terdeteksi ada aktivitas kegempaan vulkano tektonik satu kali dan tektonik dua kali. Monitoring dilakukan dari pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB.
Gunung Merapi kembali meletus freatik selama empat menit pada Rabu (23/5/2018) pukul 03.31 WIB.
Merapi kembali mengalami letusan pada Rabu (23/5/2018) dini hari. Letusan kali ini dimungkinkan merupakan gabungan antara freatik dan magmatik.
Usai erupsi freatik Gunung Merapi yang terjadi pukul 03.31 WIB (23/5/2018) sebagian warga lereng Merapi berinisiatif mengungsi. Sebanyak 55 warga terdiri dari usia rentan masih menempati tempat pengungsian.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, bermukim di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III adalah sesuatu yang berbahaya. Namun, karena mobilitas masyarakat agak sulit untuk diatur, hingga kini daerah rawan masih tetap ada penghuninya.