Tiga Politikus Ini Disebut Bikin Partai Demokrat Membusuk
Sejumlah petinggi Partai Demokrat disebut merusak kredibilitas partai.
Sejumlah petinggi Partai Demokrat disebut merusak kredibilitas partai.
Koalisi partai politik dalam pencalonan capres-cawapres akan berakhir seiring pengumuman hasil Pemilu serentak 2019, tanggal 22 Mei 2019. Hal tersebut disampaikan Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan.
Pertemuan petinggi PAN baru-baru ini diklaim tak membahas isu partai ini merapat ke kubu Jokowi.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gunungkidul mengancam akan mencoret calon anggota legislatif (caleg) terpilih apabila partai tidak menyerahkan laporan akhir dana kampanye. Penyerahan laporan ini dibuka mulai Jumat (26/4/2019) hingga Rabu (1/5/2019).
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta kaddernya bersikap tegas, terutama jika ada petugas pemilu yang tidak memberikan hak pilih kepada warga negara Indonesia (WNI). Menurutnya, para kader harus berani bersuara.
Pada Pemilu serentak 2019 nanti, Partai NasDem optimistis masuk tiga besar dengan perolehan minimal 100 kursi DPR. Keyakinan ini berdasar pada kerja-kerja politik yang dilakukan partai besutan Surya Paloh itu selama setahun terakhir.
Sejumlah partai politik bersaing ketat. PDI Perjuangan (PDIP) sebagai partai terfavorit berharap agar koalisinya yakni Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mampu mengalahkan Gerindra yang masih berada di urutan nomor dua.
Ketua Dewan Pakar Partai Golkar HR Agung Laksono mendukung langkah DPP Partai Golkar memberikan sanksi pemecatan Erwin Aksa dari kepengurusan karena mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga pada Pilpres 2019.
Penunjukan Suharso Monarfa sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PPP dinilai inkonstitusional karena telah melanggar AD/ART partai.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusulkan Rp20 triliun dari APBN digunakan untuk membiayai kegiatan partai politik (parpol).