Nilai Tukar Rupiah Tertekan karena Isu Gelombang Kedua Covid-19
Nilai tukar rupiah tertekan sejak tiga hari terakhir. Salah satu penyebabnya ialah isu gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Tanah Air.
Nilai tukar rupiah tertekan sejak tiga hari terakhir. Salah satu penyebabnya ialah isu gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Tanah Air.
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (11/6) pagi menguat setelah pengumuman hasil rapat bank sentral Amerika Serikat The Fed.
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (8/6), diprediksi masih melanjutkan tren positif. Pada pukul 09.52 WIB, rupiah melemah 20 poin atau 0,14 persen menjadi Rp13.898 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.878 per dolar AS.
Pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar Rp405,1 triliun untuk penanganan Covid-19 melalui payung hukum Perppu No.1/2020.
Rupiah diperkirakan bakal menguat ke level Rp14.800 sampai dengan Rp14.540, lebih cepat dari yang diperkirakan Bank Indonesia.
Nilai tukar rupiah berhasil menguat dan mencetak kinerja harian terbaik di jajaran mata uang Asia.
Penguatan rupiah bersama rekan mata uang Asia lainnya dipicu sentimen The Federal Reserve yang akan menggelontorkan stimulus untuk menggenjot perekonomian.
Dampak wabah virus corona menyebabkan nilai rupiah melemah.
Nilai tukar rupiahterhadap dolar AS menyentuh level terendah sejak Oktober 2019 dan mengalami pelemahan terbesar sejak Maret 2019.
Rupiah diprediksi menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia tahun ini, mengungguli baht Thailand.