Ngeri, Kerugian Bisnis di Jakarta akibat Banjir Capai Rp1 Triliun
Bencana di Ibu Kota, DKI Jakarta dan sekitarnya membuat berbagai aktivitas bisnis lumpuh total. Perputaran uang selama libur tahun baru tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Bencana di Ibu Kota, DKI Jakarta dan sekitarnya membuat berbagai aktivitas bisnis lumpuh total. Perputaran uang selama libur tahun baru tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sebanyak 265 orang warga melaporkan kerugian akibat banjir yang melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta pada 1 Januari 2020.
Banjir melanda ibu kota RI, Jakarta pada Tahun Baru 2020. Bencana ini menghasilkan sedikitnya hampir 50 ribu ton sampah di seluruh wilayah Ibu Kota.
Sebanyak tujuh fraksi partai di DPRD DKI Jakarta menyetujui pembentukan panitia khusus untuk mengumpulkan data, menelusuri penyebab, serta mencarikan solusi atas bencana banjir di Ibu Kota sejak awal 2020.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan siap bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menanggulangi banjir di Jakarta, melalui program normalisasi sungai.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengklaim sudah berdiskusi tentang persoalan banjir di Ibu Kota dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Dengan menggunakan Metode Rasional Q = 0,278.C.I.A, maka jika dianggap intensitas hujan (I) sebesar 8,3 mm/jam, luasan Daerah Aliran Sungai (A) sebesar 662,33 km2, maka besar debit puncak (Q) yang terjadi jika hujan jatuh pada tanah terbuka sebesar 382 m3/s. Sementara jika hujan jatuh pada area permukiman, maka besar debit puncak puncak (Q) yang terjadi sebesar 1268 m3/s.
Banjir yang terjadi di Jabodetabek menimbulkan kerugian bagi warga. Pemerintah memutuskan untuk memberikan kompensasi kepada seluruh masyarakat korban banjir di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kompensasi ini diberikan sesuai dengan kriterianya.
Banjir besar kembali mengepung Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) persis di awal tahun 2020. Derasnya air bah akibat curah hujan tinggi dan banjir kiriman itu meluluhlantakkan puluhan rumah, mobil, motor, dan semacamnya, bahkan belasan orang meninggal dunia. Sungguh memprihatinkan.
Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) M Fakhrudin menuturkan perubahan lahan yang berlangsung cepat menyebabkan menurunnya kemampuan daya resap sistem daerah aliran sungai (DAS) di Jabodetabek sehingga tidak mampu menyerap limpahan air hujan yang turun pada saat cuaca ekstrem dan akhirnya mengakibatkan banjir di wilayah itu.