Meski Ada Tren Penurunan, Harga Cabai Rawit Merah di Kota Jogja Masih Tinggi
Harga cabai rawit merah di Kota Jogja mulai menunjukkan tren penurunan. Meski begitu nominalnya terbilang masih cukup tinggi.
Harga cabai rawit merah di Kota Jogja mulai menunjukkan tren penurunan. Meski begitu nominalnya terbilang masih cukup tinggi.
Kenaikan harga cabai rawit nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Alih-alih turun, harga cabai rawit kini kian melambung di harga Rp120.000 per kilogram.
Setelah sempat menyamai harga daging sapi Rp110.000 per kg, harga komoditas cabai rawit berangsur turun, Rp96.000 per kg. Pemkab mengakui kesulitan untuk mengendalikan harga cabai.
Harga komoditas cabai yang dijual di atas Rp100.000 perkg dinilai menguntungan kalangan petani di masa pandemi saat ini. Oleh karenanya, Pemkab Sleman tidak akan menggelar operasi pasar.
Harga komoditas cabai kian meroket di Kulonprogo. Bahkan, di Pasar Wates harga cabai menembus sekitar Rp95.000 per kilogramnya. Kenaikan cabai disebut-sebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca saat ini.
Memasuki musim hujan harga cabai kembali melambung di pasaran. Pedagang pasar pilih kurangi pasokan karena harganya terlampau tinggi.
Harga cabai masih tinggi dalam satu bulan ini, curah hujan yang tinggi sehingga membuat kualitas cabai ataupun jumlah panen menurun, diduga menjadi penyebabnya.
Anjloknya harga cabai merah keriting di tingkat petani di Kulonprogo pada masa pandemi Covid-19 direspons Pemkab. Melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kulonprogo, komoditas produksi petani pesisir itu dijual kepada aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan pemerintahan dengan harga yang lebih tinggi.
Sejumlah petani cabai di Karang Kalasan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman harus gigit jari saat masa panen kali ini. Pasalnya, tanaman cabai milik mereka gagal panen lantaran diserang hama Anthraknosa.
Mahalnya harga cabai rawit merah alias cabai setan di kalangan pedagang Pasar Wates beberapa hari terakhir yang mencapai Rp85.000 per kilogram salah satunya dipicu harga cabai di kalangan petani yang sudah terlebih dulu mahal.