Ternyata Harga Cabai di Jogja Mahal Gara-Gara Ini
Kenaikan harga cabai di DIY dinilai turut didorong karena pengaruh penjualan oleh petani ke luar daerah.
Kenaikan harga cabai di DIY dinilai turut didorong karena pengaruh penjualan oleh petani ke luar daerah.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) meluncurkan Sistem Informasi Bahan Pokok (Simbapok). Aplikasi ini diharapkan mampu memudahkan masyarakat baik pedagang ataupun pembeli dalam memantau harga-harga bahan pokok (bapok) yang ada di pasar. Di Gunungkidul, Simbapok mulai diterapkan awal 2020.
Alami kenaikan harga sejak awal tahun, harga cabai di wilayah DIY dinilai masih tinggi hingga saat ini.
Peternak rakyat akan kembali melakukan aksi damai untuk menyikapi rendahnya harga ayam hidup (Livebird), di Kementerian Pertanian, Rabu (22/1).
Harga cabai masih saja tinggi. Bahkan harga rata-rata cabai merah besar saat ini menyentuh angka Rp63.667 per kilogram (kg).
Harga bawang merah dan cabai masih melambung lantaran sampai saat ini belum masuk masa panen. Di sisi lain, permintaan akan kedua bahan makanan tersebut tinggi.
Selama libur Natal dan Tahun (Nataru), dinilai tidak ada gejolak harga yang berarti. Hanya beberapa kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan dan terasa sampai saat ini.
Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019 tidak menjadi kabar baik bagi peternak ayam rakyat mandiri, lantaran harga penjualan dari kandang tidak terangkat dan masih di bawah harga pokok produksi (HPP) pemerintah.
Kementerian Perdagangan memantau harga bangan pangan di Jogja jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Pasar Kranggan dan Pasar Beringharjo, Jogja, Senin (16/12). Berdasarkan hasil pantauan, secara umum harga bahan pangan cenderung stabil, tetapi untuk harga telur mengalami kenaikan cukup tinggi.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul mengklaim harga kebutuhan pokok relatif stabil menjelang perayaan Natal. Hal ini terlihat dari hasil pemantauan harga-harga yang dilakukan secara berkala oleh tim dari Disperindag.