Aksi Bersama Turunkan Angka Stunting Membuahkan Hasil
Aksi bersama mencegah stunting yang melibatkan pemerintah pusat, daerah serta lembaga masyarakat dan pihak swasta berhasil menurunkan angka stunting pada sejumlah daerah di Indonesia.
Aksi bersama mencegah stunting yang melibatkan pemerintah pusat, daerah serta lembaga masyarakat dan pihak swasta berhasil menurunkan angka stunting pada sejumlah daerah di Indonesia.
Calon pengantin, ibu hamil, dan ibu paska melahirkan adalah target pencegahan stunting. Hal ini karena stunting terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu sejak bayi masih dalam kandungan hingga berusia dua tahun.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mendorong adanya keterbukaan di lingkungan pendidikan baik formal maupun nonformal. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya tindak penyimpangan seksual yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak seluruh komponen dalam masyarakat untuk menerapkan slogan 4T (tidak terlalu muda, tidak terlalu tua, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering) yang dapat mencegah anak lahir dalam keadaan stunting (kekerdilan).
Upaya menurunkan stunting membutuhkan kerja sama berbagai pihak, apalagi saat pandemi pertumbuhan anak terkendala kurang gizi yang salah satu faktor utamanya akses makanan bergizi, sanitasi, maupun air bersih. Hal ini karena keluarga berpenghasilan rendah banyak yang kehilangan pendapatan.
Kasus stunting atau perawakan pendek di Kota Solo hingga Oktober 2021 tinggal 459 jiwa atau 1,7%. Jumlah itu diklaim menurun dibandingkan awal tahun lalu yang masih 1.059 kasus.
Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPPKBPMD) Bantul gencar menyosialisasikan kesehatan reproduksi kepada calon pengantin dan remaja usia siap nikah. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan angka balita stunting dan juga membangun keluarga yang harmonis.
Stunting menjadi salah satu masalah sosial yang terus disorot oleh pemerintah kabupaten Kulonprogo. Upaya sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan potensi stunting yang bisa terjadi kepada anak terus dilakukan.
Penurunan angka stunting tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen bersama agar penanganannya dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Penghageng KHP Nitya Budaya Kraton Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengingatkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam mengatasi stunting. Nilai budaya yang adiluhung bisa menjadi dasar edukasi pencegahan stunting melalui pendidikan usia dini. Hal itu disampaikan dalam peluncuran Program Isi Piringku Berbasis Nilai Budaya Luhur secara daring di Jogja Kamis (2/9/2021).