Galih Eko Kurniawan

Galih Eko Kurniawan

Manajer

Daftar artikel

Gunungkidul

ELPIJI : Dinas ESDM Pikir Ulang

harianjogja.com,GUNUNGKIDUL—Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Gunungkidul berpikir ulang untuk mengajukan tambahan kuota gas elpiji tiga kilogram di tahun in, menyusul kenaikan harga elpiji 12 kilogram yang mencapai 68%. Kepala Disperindagkoptam ESDM Gunungkidul Siwi Iriyani mengatakan rencananya mengajukan kuota tambahan gas tiga kilogram pada awal tahun ini. Namun, dengan kenaikan gas non subsidi yang cukup menghentakan masyarakat membuat ia berpikir-pikir untuk menambah kuota gas bersubsidi. “Masih pikir-pikir dulu karena akan jadi percuma ditambah pun tetap tidak akan mencukupi karena pasti ada peralihan pengguna elpiji 12 kilogram ke elpiji tiga kilogram,” kata Siwi, Minggu (5/1). Siwi masih akan menunggu perkembangan hasil koordinasi Pertamina dengan agen-agen pada Senin besok. Siwi memastikan kenaikan elpiji 12 kilogram akan menyebabkan harga makanan tidak akan terkontrol karena industri rumahan juga akan menyesuaika dengan biaya pengeluaran tambahan.

Minggu, 05 Januari 2014 17:50 WIB
ELPIJI : Dinas ESDM Pikir Ulang
Gunungkidul

Warga Dusun Bali Galau

GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Bali, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang gelisah mengenai nasib rumah mereka lantaran belum mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Kegelisahan terutama dirasakan warga yang berada di belakang Balaidesa Girisekar. Seusai sosialisasi kedua pada 24 September 2013 lalu, sampai awal tahun ini belum ada sosialisasi lanjutan. “Jadinya bagaimana belum tahu. Saya hanya kasihan pada ibu, bagaimana nasibnya kalau sampai rumah dilalu JJLS,” papar salah satu warga Bali, Prapti, kepada Harian Jogja di kediaman ibunya, Cipto Winarso, Jumat (3/1). Prapti mengaku ibunya tidak mau pindah dari rumah. Ibunya dan dirinya tidak setuju bila JJLS melalui belakang Balaidesa Girisekar. Prapti mengaku rumahnya yang di tepi jalan siap saja kalau misalnya kena pembangunan JJLS. Warga Dusun Mendak, Bali, Suwarno juga mengaku belum mendapatkan kejelasan mengenai ganti rugi. Sosialisasi baru dilakukan dua kali. “Sampai saat ini warga belum ada yang tahu kelanjutannya. Tidak ada yang mendampingi secara psikologis sehingga kondisi mental warga ada yang stres,” paparnya. Suwarno berharap segera ada kejelasan sehingga warga tidak semakin terkatung-katung. Ia juga berharap jalur JJLS tidak melalui belakang balaidesa tetapi melalui  jalur jalan raya yang sudah ada.

Jum'at, 03 Januari 2014 17:34 WIB
Warga Dusun Bali Galau