Ger-Ceb, Gerakan Cegah Cyberbullying di Kalangan Remaja

Media Digital
Media Digital Jum'at, 06 November 2020 22:17 WIB
Ger-Ceb, Gerakan Cegah Cyberbullying di Kalangan Remaja

Gerakan Penanggulangan dan Pencegahan Cyberbullying pada Remaja di SMA Muhammadiyah 3 Jogja pada 14-15 Januari 2020./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Laili Nur Hidayati, membuat program Ger-Ceb (Gerakan Penanggulangan dan Pencegahan Cyberbullying pada Remaja) di SMA Muhammadiyah 3 Jogja pada 14-15 Januari 2020.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) itu diikuti  seluruh siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang berjumlah 307 orang. “Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam upaya pencegahan cyberbullying,” kata Laili melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Pengabdian masyarakat ini berupa penyuluhan kesehatan terkait cyberbullying pada remaja. Sasaran penyuluhan adalah guru dan siswa. Penyuluhan dilakukan pada Januari 2020 dengan memberikan edukasi kepada seluruh siswa di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Edukasi diberikan dengan beberapa sesi kegiatan penyuluhan dengan durasi kegiatan adalah dua jam untuk setiap kali penyuluhan. Kegiatan diawali dengan siswa mengisi screening terkait cyberbullying kemudian diberikan pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa, lalu diberikan penyuluhan dan setelah selesai siswa mengerjakan posttest terkait pengetahuan tentang cyberbullying.

“Siswa sangat antusias mengikuti penyuluhan yang dilakukan dan saat sesi diskusi dan tanya jawab siswa juga aktif bertanya kepada narasumber. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi.  Pelaksanaan penyuluhan didampingi oleh guru kelas sehingga ketertiban bisa terjaga dan guru juga mendapatkan informasi materi penyuluhan sehingga bisa melanjutkan untuk mengedukasi siswa setelah selesai penyuluhan. Advokasi dilakukan kepada pihak sekolah untuk mewujudkan kebijakan terkait pencegahan cyberbullying,” kata Laili.

Hasil screening terkait perilaku cyberbullying dan evaluasi kegiatan penyuluhan yang diberikan kepada siswa menghasilkan beberapa kesimpulan. Distribusi perilaku cyberbullying sebagian besar dalam kategori rendah sebanyak 164 siswa (53,4%), kategori sedang 6 siswa (2%) dan siswa yang tidak melakukan perilaku cyberbullying sejumlah 137 siswa (44,6%).

Pelaku cyberbullying biasanya melakukan hal tersebut dikarenakan dirinya menganggap bahwa teman yang menjadi korban tidak akan marah ataupun merasa tersinggung (Fitransyah & Waliyanti, 2018). Tindakan yang dilakukan sekolah terkait pencegahan cyberbullying masih belum banyak dilakukan, sedangkan peran sekolah  memberikan andil yang cukup besar dengan kejadian cyberbullying ini.

“Sekolah seharusnya meningkatkan peran sertanya dalam pencegahan cyberbullying. Hal ini sesuai dengan penelitian Dominguez, Franco, dan Hueros (2019) yang menyatakan bahwa guru-guru yang berada di sekolah dapat melakukan pencegahan cyberbullying dengan berbagai cara seperti memperkuat peran guru BK di sekolah, memberikan pelajaran  tentang pentingnya anti-cyberbullying dan pembangunan karakter remaja serta perlunya meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mengawasi kegiatan remaja serta orang tua harus memahami bahaya dari cyberbullying sehingga orang tua dapat memperingatkan tentang konsekuensi yang mereka dapatkan ketika mereka melakukan cyberbullying,” ujar dia.

Pencegahan cyberbullying juga dapat dilakukan oleh perawat di ranah sekolah khususnya perawat komunitas, dimana perawat dapat berperan dan menjalankan fungsinya dalam upaya pelayanan kesehatan utama (Primary Health Care) yang berfokus pada upaya promosi dan pencegahan dari perilaku cyberbullying yang ada pada remaja (Gaffar, 1999 dalam Annisa, 2012).

“Berdasarkan hasil evaluasi tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan tingkat pengetahuan siswa terkait Cyberbullying setelah diberikan edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan memberikan pengaruh dalam peningktan pengetahuan siswa. Pemberian edukasi ini sangat bermanfaat terutama untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi kejadian cyberbullying karena dengan pengetahuan yang baik diharapkan siswa dapat saling mengingatkan satu sama lain untuk meminimalisir kejadian ini,” ucap Laili,

Menurut dia, edukasi kepada masyarakat juga dilakukan dengan pemasangan media promosi kesehatan di lingkungan sekolah mengenai cyberbullying. Media kesehatan tersebut meliputi pemasangan banner di lingkungan sekolah dan penyebaran leaflet, hal ini dilakukan agar guru dan siswa selalu ingat untuk menerapkan  upaya pencegahan cyberbullying di lingkungan sekolah. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online