Pengabdian UMY Berupaya Kurangi Bullying di Pesantren

Media Digital
Media Digital Senin, 09 November 2020 00:27 WIB
Pengabdian UMY Berupaya Kurangi Bullying di Pesantren

Pengabdian UMY untuk mengurangi bullying di pondok pesantren./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Anita Aisah, dosen Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengisi Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan kegiatan bertema Pengabdian Masyarakat pada Musyrif sebagai Upaya Mengurangi Bullying di Pesantren.

“Program pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan ketrampilan pendampingan musyrif melalui metode konseling sebaya. Penerapan konseling sebaya sebagai salah satu upaya mengurangi bullying,” kata Anita melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Pelaksanaan pengabdian berjudul peningkatan kapasitas musyrif di pesantren X melalui program konseling sebaya dimulai dengan tahap observasi awal. Observasi dilakukan bertujuan untuk mencari musyrif yang belum memiliki ketrampilan peer counseling. Hasilnya adalah semua musyrif ikut serta program.

Metode selanjutnya adalah psikoedukasi, psikoedukasi menuju musyrif sehat mental dilakukan pada 10 Maret 2020 di ruang kelas pesantren X. Kegiatan dilakukan pada malam hari pukul 19.30 – 21.30 WIB. Psikoedukator kegiatan ini adalah seorang psikolog bernama Admila Rosada. Background psikoedukator adalah seorang psikolog klinis yang menekuni bidang pelatihan empati pada guru. Peserta yang mengikuti psikoedukasi sesi pertama adalah sembilan musyrif yang dari pesantren X. Metode Psikoedukasi dilakukan melalui ceramah, diskusi, relaksasi serta role playing.

Sesi pertama psikoedukasi dimulai dengan perkenalan baik itu dari peneliti, psikoedukator, peserta serta tim peneliti. Psikoedukator menyampaikan tentang peran musyrif di Sekolah Asrama. Teknik penyampaian materi dilakukan dengan ceramah dan diskusi. Psikoedukator kemudian memetakan permasalahan yang terjadi pada musyrif selama mendampingi santri di asrama. Permasalahannya meliputi karakter beberapa santri yang sulit diatur; tekanan atau tuntutan dari masyarakat atau wali santri; terlalu banyak keluhan dari wali santri; wali santri yang terlalu mengintervensi kebijakan asrama;, musyrif merasa tidak dilindungi atau tidak diback-up oleh institusi; dan adanya keinginan musyrif untuk bekerja di tempat yang lain. Harapan Pembina Musyrif adalah apapun permasalahan santri, musyrif harus bisa menangani sehingga tidak ada santri yang mengundurkan diri dari asrama.

Psikoedukator memulai acara inti dengan menganalisis permasalahan yang dialami oleh beberapa musyrif dengan menggunakan alur teori “Cognitive Behavior Therapy” atau CBT. Psikoedukator menjelaskan bahwa antara perasaan, pikiran dan perilaku itu harus searah. Psikoedukator melakukan sesi ini dengan berdiskusi memetakan bagaimana perasaan, pikiran dan perilaku musyrif selama melakukan pendampingan pada santri. Melalui teknik CBT ini, psikoedukator mengajak para musyrif untuk memahami kondisi saat mereka stres dan tahapan coping stres yang akan dilaluinya.

Pada sesi 1 ini, peneliti dan psikoedukator mengajar peserta untuk melakukan mindfullness. Dasar teknik ini adalah agar peserta memahami dasar melakukan perilaku adalah “here and now”. Mindfullness merupakan sebagai salah satu teknik di sesi 1 ini bertujuan untuk mengajak latihan bagi para peserta melalui dalam dirinya. Mindfullness merupakan atur nafas yang dipandu oleh Admila Rosada, M.Psi. Psikolog selama 20 menit. Setelah pelaksanaan mindfullness, peserta diajak oleh psikoedukator untuk mendeksripsikan melalui gambar. Anggota pengabdi memberikan pensil dan kertas HVS kepada para peserta. Peserta diberikan waktu 10 menit untuk menggambar.

Di akhir sesi satu, peserta dipandu oleh Psikoedukator untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Salah satu contoh ungkapan perasaan yang dipaparkan oleh Peserta yang berinisial H adalah perasaan marah karena hadir seorang santri yang menurutnya paling menjengkelkan. H merasa diingatkan bahwa perilakunya pada santri tersebut tidak benar. Hal ini yang akan membuat dia berkomitmen memperbaiki perilakunya. Selain itu A membuat gambar matahari, A memaparkan bahwa sebagai musyrif seharusnya menjadi penerang bagi santri. Ada M menggambar sebuah garis. Arti garis tersebut bagi M adalah dia merasa orang yang paling bodoh dan paling banyak melakukan kesalahan apabila dibandingkan dengan yang lain.

Psikoedukator, Admila Rosada,, mengakhiri sesi pertama dengan memaparkan pentingnya memahami kondisi musyrif terlebih dahulu kemudian meninjau kembali tujuan menjadi musyrif. Psikoedukator juga menekankan bahwa teknik CBT dapat diterapkan kepada musyrif ketika menghadapi masalah pendampingan santri.

Sesi kedua adalah psikoedukasi menerapkan teknik konseling di asrama. Psikoedukator sesi kedua adalah Ghifari Yuristiadhi. Dia merupakan pelaksana konseling sebaya di Universitas Gadjah Mada. Sesi kedua dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2020 di ruang kelas di pesantren. Ada 11 musyrif yang hadir di sesi kedua ini. Waktu pelaksanaan sesi kedua ini adalah dari jam 19.30 -  21.30 WIB

Psikoedukator menggunakan teori kebutuhan Abraham Maslow. Pemaparan yang dilakukan oleh Psikoedukator adalah menggali motivasi peserta untuk menjadi musyrif. Penggalian motivasi musyrif dilakukan melalui cara penskoring. Peserta memberikan skor motivasi menjadi musyrif yang berbeda beda. Psikoedukator menjelaskan pentingnya menjaga skor tinggi pada motivasi menjadi musyrif.

Selanjutnya psikoedukator masuk pada sesi peer counseling, yaitu dasar konseling sebaya dan teknik pelaksanaannya. Dasar konseling sebaya didasari oleh tugas perkembangan. Remaja bisa melaksanakan peer counseling karena perkembangan kognitifnya sudah siap. Santri masuk dalam kategori perkembangan remaja. Psikoedukator juga menjelaskan tentang tujuan konseling sebaya  salah satunya menumbuhkan sikap empati dengan teman sebaya. Teknik dan tahapan konseling juga dijelaskan pada sesi ini.

Sesi selanjutnya adalah pelaksanaan follow-up. Follow-up ini merupakan sesi evaluasi untuk mengetahui pelaksanaan konseling sebaya yang dilakukan oleh musyrif. Pengabdi memiliki rencana akan melakukan follow-up penerapan konseling sebaya pada tanggal 15 April 2020. Namun pada 15 Maret 2020 mulai ada pandemi covid-19, sehingga pesantren mulai menerapakan pembelajaran dan pendampingan secara online. Sebagian santri kembali ke rumahnya. Pendampingan psikologis dilakukan secara online oleh musyrif. Penelitian menggunakan google form untuk mencari data tentang pendampingan psikologis yang dilakukan oleh musyrif. Google form ini diisi oleh 23 musyrif.

Di antara 23 musyrif yang mengisi, ada 11 musyrif yang telah mengikuti psikoedukasi. Penyebaran dan pengisian google form dilakukan secara online pada 19 – 27 Mei 2020. Pertanyaan dalam google form diisi sesuai dengan pretest penelitian tetapi ada penambahan pertanyaan mengenai pendampingan psikologis santri selama masa pandemi.

“Kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan musyrif dalam melakukan pendampingan konseling sebaya pada santri, tetapi belum bisa dilaksanakan secara optimal karena situasi pandemi Covid-19,” ujar Anita. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online