Pernah Terhina oleh Penolakan Ronaldo, Robin Gosens Jadi Pemain Terbaik Jerman

Budi Cahyana
Budi Cahyana Minggu, 20 Juni 2021 05:32 WIB
Pernah Terhina oleh Penolakan Ronaldo, Robin Gosens Jadi Pemain Terbaik Jerman

Robin Gosens/UEFA

Harianjogja.com, JOGJA - Bek sayap Robin Gosens menjadi pemain terbaik saat Jerman membabat Portugal 4-2 dalam laga kedua Grup F Euro 2020 di Allianz Arena, Munich, Minggu (20/6/2021) dini hari WIB. Gosens pernah merasa terhina dan malu luar biasa karena ditolak Ronaldo saat meminta bertukar kaus.

Gosens adalah elemen penting dalam formasi anyar Joachim Low setelah Jerman berantakan di Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League. Setia dengan formasi empat bek sejak menggantikan Jurgen Klinsmann pada 2006, Low akhirnya memakai formasi tiga bek di Euro 2020. Antonio Rudiger, Mats Hummels, dan Matthias Ginter mengisi pos tiga bek tengah. Serangan dari tepi permainan bertumpu pada dua bek sayap: Robin Gosens di kiri dan Joshua Kimmich di kanan.

Terakhir kali Jerman memakai sistem tiga bek tengah dan dua bek sayap adalah pada Piala Dunia 2002. Kala itu, Christian Ziege bergantian dengan Marco Bode menjadi bek sayap kiri dan Bernd Schneider mengisi slot bek sayap kanan. Jerman melaju sampai final sebelum ditekuk Brasil 0-2.

Di Euro kali ini, setidaknya hingga laga kedua fase grup, bek sayap menjadi sumbu utama Die Mannschaft. Gosens dan Kimmich mejan di laga pertama saat kalah 0-1 dari Prancis, tetapi meledak di pertandingan kedua. Keduanya terlibat dalam semua gol Jerman.

Gosens mengemas dua asis (satu untuk gol bunuh diri Ruben Dias dan satu lagi untuk gol Kai Havertz) serta satu gol. Sementara Kimmich memasok asis untuk gol Gosens dan gol bunuh diri Raphael Guerreiro. Mereka bahkan bisa mencapai lebih andaikata gol Gosens lewat tendangan gunting tidak dianulir VAR karena bola operan Kimmich menyeremper kaki Serge Gnabry yang sudah offside.

Gosens meneruskan anomali sisi kiri Timnas Jerman. Pada Piala Dunia yang memalukan di Rusia tiga tahun lalu, Jerman Jonas Hector sebagai bek kiri utama. Dia tak sekali pun main di Timnas Jerman level junior layaknya 22 pemain lainnya. 

Gosens, usianya sekarang 26 tahun, baru mencatat debut bersama Die Mannschaft pada 3 September 2020 lalu melawan Spanyol. Gosens mengambil tempat Hector yang melempem di Koln dan kini tersingkir dari skuat Jerman.

Sejauh ini Gosens baru mengemas sembilan penampilan internasional dan tidak pernah berseragam Jerman junior. Bahkan, Gosens belum pernah main di liga profesional Jerman di level terbawah.

Dia lahir dan besar di Jerman sebelah barat, di kota yang hanya berjarak empat kilometer dari Belanda. Setelah bermain di klub amatir VfL Rhede, Gosens pindah ke tim junior Vitesse Arnhem saat berumur 18 tahun, sangat telat untuk ukuran pemain profesional. Gosens kemudian membela dua klub kecil Liga Belanda, Dordrecht dan Heracles Almelo, sebelum menyeberang ke Italia untuk merumput bersama Atalanta.

Usianya 23 tahun saat pertama kali datang ke Atalanta pada 2017. Di klub inilah Gosens mekar di bawah arahan pelatih Gien Piero Gasperini.

2019/2020 adalah musim terbaik Gosens. Dia membawa Atalanta ke perempat final Liga Champions dan finis di empat besar Serie A. Itu juga menjadi musim penentuan yang membentuk Gosens menjadi bek sayap cemerlang seperti yang terlihat di Euro 2020.

Gosens sudah terbiasa main sebagai bek sayap karena pola tiga bek menjadi kegemaran Gasperini. Namun, butuh banyak latihan dan memahami peran agar dia matang.

"Tahun lalu, saya sangat sering bermain di wilayah pertahanan lawan, tapi tak pernah ada di tempat yang tepat untuk menerima bola. Saya kadang tiba terlalu cepat atau terlalu lambat," kata Gosens kepada The Athletic.

Bersama Gasperini, Gosens berulang kali menonton video untuk menganalisis permainannya.

"Dengan bantuan pelatih, saya memperbaiki kelemahan-kelemahan. Saya juga menghabiskan banyak waktu untuk melatih tembakan dan menyundul bola. Sepertinya kerja itu terbayar."

Memang terbayar. Lunas dan di pentas besar. Gol Gosens ke gawang Portugal lahir lewat tandukan kepala. Gol itu, dan dua asis lainnya, juga menjadi balas dendam yang menyenangkan.

Gosens adalah pengagum Ronaldo yang ditampik idolanya.

"Setelah laga melawan Juventus, saya mendekati Ronaldo untuk meminta bertukar jersey. Tapi Ronaldo menolak. Saya bilang, \'Cristiano, dapatkan saya meminta kausmu?\' Dia bahkan tidak melihat saya dan hanya berkata, \'Tidak\'. Saya sangat malu. Saya merasa sangat kecil. Anda pernah berada di momen memalukan dan melihat sekeliling siapa tahu ada yang melihat Anda? Itulah yang saya rasakan saat itu dan saya mencoba menyembunyikannya," kata Gosens dalam biografinya, Dreams are Worthwile, yang dikutip Football Italia, April 2021 lalu.

Sepekan setelah mengungkapkan penolakan Ronaldo, Gosens akhirnya mendapatkan jersey sang idola, walaupun tidak langsung dari tangan Ronaldo. Gosens mendapat bingkisan kaus Ronaldo dari rekannya di Atalanta, Hans Hateboer. Itu sudah membuatnya cukup senang.

Di Munich setalah Jerman menggilas Portugal dan Gosens diganjar pemain terbaik pertandingan tersebut oleh UEFA, keinginan untuk bertukar kaus sudah sirna. Gosens jelas lebih baik daripada Ronaldo meski Ronaldo pun gemilang karena mencetak satu gol dan membuat asis untuk Diogo Jota. Gosens juga lebih gembira.

"Di akhir pertandingan saya tak tertarik bertukar kaus dengan Ronaldo. Saya hanya ingin menikmati kemenangan ini," kata Gosens kepada Sky Sport Italia.

"Untuk penggemar Atalanta, saya cinta kalian dan sampai jumpa lagi."

Ronaldo? Dia dibicarakan di Twitter antara lain karena kegagalan konyolnya menggiring bola di pengujung laga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online