Hilirisasi Digital Juga untuk Memperkuat Keamanan Siber

Media Digital
Media Digital Minggu, 07 Januari 2024 23:17 WIB
Hilirisasi Digital Juga untuk Memperkuat Keamanan Siber

Gibran Rakabuming Raka - Antara

JOGJA—Meski sering kali dilontarkan, hilirisasi digital masih terus dipertanyakan. Terbaru pasangan calon (paslon) nomor urut dua, Prabowo Subianto da Gibran Rakabuming Raka menjelaskan kaitan hilirisasi digital dengan pertahanan dan keamanan di Indonesia.

"Hilirisasi digital akan kami genjot. Kita akan siapkan anak-anak muda yang ahli artificial intelligence, anak-anak muda yang ahli block chain, anak-anak muda yang ahli robotik, anak-anak muda yang ahli perbankan syariah, anak-anak muda yang ahli crypto," kata calon wakil presiden (cawapres) nomor urut dua, Gibran berulang kali dalam Debat Cawapres Pilpres 2024, Jumat (22/12/2024).

Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran Budiman Sudjatmiko mengatakan konsep pendekatan ekosistem ini juga dikenal sebagai DDNA, yaitu data, device, network and application.

Dengan adanya hilirisasi digital akan membuat Indonesia memiliki komoditas data dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Maka hal itu perlu disikapi dengan penguatan keamanan digital di Indonesia.

Karena data diolah secara digital dengan AI, machine learning, big data, blockchain sehingga cyber security dan cyber defense yang diungkapkan Gibran menjadi sangat penting untuk melindungi komoditas ekonomi kita," ujar Budiman, Minggu (24/12/2023).

Terbaru, Budiman mengatakan Prabowo dan Gibran berkomitmen untuk memperkuat pertahanan dan keamanan siber melalui hilirisasi digital. Tujuannya adalah menjaga Indonesia dari ancaman serangan siber yang mulai tumbuh masif di era digital saat ini.

"Prabowo Gibran berkomitmen penuh untuk memperkuat pertahanan siber dan keamanan siber Indonesia. Ini langkah penting dan antisipatif untuk merespon serangan dan kejahatan siber serta menjaga stabilitas nasional." ujar Budiman dalam keterangan tertulis, Minggu (7/1/2024).

Budiman melanjutkan usaha untuk memperkuat keamanan siber juga menjadi hal mendesak karena Indonesia sangat rentan kejahatan siber. "Kominfo sudah menyampaikan Indonesia menduduki peringkat kejahatan siber kedua di dunia setelah Ukraina. Jadi ini sudah harus jadi perhatian khusus." jelasnya.

Dia mencontohkan kasus kebocoran data nasabah salah satu bank di Indonesia yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Menurutnya, salah satu penyebab kelemahan dari pertahanan siber di Indonesia adalah kemandirian teknologi, sehingga perlu melakukan hilirisasi.

"Kita sangat rentan, selalu ada kemungkinan serangan kembali kejahatan siber terhadap data pribadi kita. Selama ini kita masih sangat bergantung kepada luar negeri. Untuk itu hilirisasi perlu dilakukan. Dalam konsep Prabowo-Gibran disebut sebagai DDNA. Itu semua harus mulai kita hilirisasi, harus dimulai untuk mandiri, dari bangsa sendiri," katanya.

Ia melanjutkan untuk mempersiapkan hal tersebut, Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan sudah mulai mengambil langkah nyata dengan mengadakan pembelajaran soal keamanan siber di tingkat perkuliahan. Di Universitas Pertahanan itu sudah ada mata kuliah Cyber Security dan Cyber Defense, di bawah Prodi Teknik Informatika,"ucapnya.

Dia menilai langkah tersebut sudah menjadi awalan menuju kedaulatan siber Indonesia. (***)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online