30 Tahun Kudatuli, PDIP Kota Jogja Teguhkan Demokrasi
DPC PDIP Kota Jogja Gelar Refleksi Kudatuli 1996, Eko Suwanto Ajak Kader Jaga Konstitusi & Demokrasi Untuk Kesejahteraan Rakyat
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu (kiri) sedang menyampaikan tantangan dan potensi pengembangan layanan bank syariah di GIK UGM, Sabtu (28/2/2026). Tim Harian Jogja
SLEMAN—Industri perbankan syariah nasional menunjukkan arah ekspansi yang semakin solid dan dinilai berada di jalur pertumbuhan yang tepat. Setelah cukup lama tertahan di kisaran 5%, pangsa pasar perbankan syariah melonjak hingga 9% sejak 2022 dan menjadi fondasi penting menuju target ideal 20%.
Hingga kini, terdapat dua bank yang berperan sebagai lokomotif utama pertumbuhan, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN). Kehadiran keduanya dinilai berhasil memperkuat struktur industri syariah nasional.
BSI terbentuk melalui merger sejumlah bank syariah BUMN, sementara BSN merupakan entitas baru hasil pemisahan (spin-off) Unit Usaha Syariah BTN yang digabungkan dengan Bank Victoria Syariah. Strategi konsolidasi tersebut dinilai efektif mengatasi persoalan klasik perbankan syariah, yakni keterbatasan modal dalam melayani kebutuhan pembiayaan skala besar.
Dengan penguatan permodalan tersebut, masyarakat dinilai tidak perlu lagi ragu menggunakan layanan perbankan syariah karena kapasitas dan daya saingnya semakin meningkat.
Potensi dan Tantangan Pasar
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai pertumbuhan perbankan syariah tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar alami yang cenderung berjalan lambat. Menurutnya, dibutuhkan langkah-langkah anorganik untuk mempercepat peningkatan suplai layanan.
“Kalau diserahkan ke pasar, progresnya tidak akan cepat. Kendala utama ada pada suplai. Ketika modal bank syariah kecil, layanan ke masyarakat juga terbatas. Aksi korporasi seperti merger BSI dan pembentukan BSN menjadi solusi penting,” ujar Anggito.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggito dalam acara Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Sabtu (28/2/2026).
Selain penguatan modal, pengembangan bisnis perbankan syariah dinilai perlu diarahkan pada percepatan transformasi digital. Keterbatasan jaringan kantor fisik dibandingkan bank konvensional membuat digitalisasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus menekan biaya pembiayaan yang selama ini relatif lebih tinggi.
Literasi Keuangan dan Inklusivitas
Digitalisasi juga dinilai krusial untuk meningkatkan inklusivitas. Saat ini, tingkat literasi masyarakat terhadap perbankan syariah telah mencapai sekitar 60%, namun tingkat inklusivitasnya baru berada di kisaran 40%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perbankan konvensional.
Dengan penguatan layanan berbasis digital, perbankan syariah diharapkan mampu mengejar ketertinggalan, memperluas basis nasabah, dan meningkatkan pangsa pasar secara berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang PNS Dinkes Kulonprogo rutin bersepeda ontel ke kantor untuk menjaga kebugaran sekaligus mendukung efisiensi BBM usai harga Pertamax naik.
Pelajari cara membuat gambar dan mengedit foto dengan Gemini AI menggunakan prompt yang tepat agar hasil visual lebih akurat dan menarik.
Coba 4 gerakan olahraga ringan setelah bangun tidur selama 5–10 menit untuk membantu tubuh lebih bugar, lentur, dan siap beraktivitas.
Jadwal KRL Solo Jogja terbaru hari ini Rabu 29 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.
AS melarang impor robot humanoid dan inverter baru asal Tiongkok demi melindungi keamanan nasional serta infrastruktur AI domestik.