Disbud Bantul Bongkar Sejarah Kapitan Tan Djin Sing hingga Madukismo
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Anggota DPRD DIY, Purwanto saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Dibalik Layar Judi Online Fakta Risiko dan Realita di Balai Kalurahan Gedangrejo, Karangmojo, Selasa (12/5)./ Harian Jogja - David Kurniawan
GUNUNGKIDUL - Praktik judi online atau judol disebut semakin meresahkan masyarakat karena tidak hanya menghabiskan harta benda, tetapi juga menyeret pelaku ke lingkaran pinjaman online hingga depresi.
Kondisi itu menjadi perhatian dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Balai Kalurahan Gedangrejo, di Karangmojo, Selasa (12/5).
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY tersebut mengangkat buku berjudul Dibalik Layar Judi Online Fakta Risiko dan Realita. Selain memperkuat budaya literasi, kegiatan itu juga dijadikan sarana sosialisasi pencegahan judi online di
masyarakat.
Anggota DPRD DIY, Purwanto, mengatakan praktik judi online kini sudah sangat mengkhawatirkan karena dampaknya dirasakan langsung oleh banyak keluarga.
Ia bahkan mencontohkan ada warga di lingkungan tempat tinggalnya yang kehilangan harta benda akibat terjerat judi online. “Sekarang masih dikejar-kejar penagih utang. Makanya, praktik judi online harus diberantas,” katanya.
Menurut Purwanto, pemberantasan judi online tidak dapat dilakukan satu pihak saja. Ia menilai diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk dukungan masyarakat hingga Pemerintah Pusat dan daerah. Di tingkat pusat, pemerintah disebut telah melakukan pemblokiran berbagai situs judi online. Sementara di tingkat daerah, upaya pencegahan dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat seperti kegiatan bedah buku.
“Semua harus saling bersinergi karena saat terjebak dalam judi online tidak mungkin menang. Malahan harta benda yang dimiliki akan habis,” katanya.
Narasumber bedah buku, Bambang Adi Waluyo, juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur janji keuntungan cepat dari praktik judi online.
Menurut dia, dampak perjudian digital tidak hanya menghancurkan kondisi ekonomi pelaku, tetapi juga memengaruhi keluarga hingga orang tua.
“Yang ada malah bikin sengsara. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, karena keluarga hingga orang tuanya juga dapat ikut terkena getahnya,” kata Bambang.
Ia menjelaskan banyak pelaku judi online akhirnya terjerat pinjaman online karena terus berusaha mencari modal tambahan untuk bermain. Kondisi tersebut, menurut Bambang, sering berujung pada tekanan mental karena pelaku dikejar utang dalam jumlah besar. Bambang menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat karena korban judi online terus bertambah di berbagai daerah.
Pustakawan DPAD DIY, Hari Setyawan, mengatakan kegiatan bedah buku terselenggara melalui kerja sama dengan DPRD DIY sebagai bagian dari penguatan budaya membaca di masyarakat.“Harapannya tidak hanya membaca, tapi juga dapat memahami isi dari bukunya. Berdasarkan survei, dalam tiga bulan warga DIY membaca 5-6 buku,” kata Hari.
Hari menjelaskan dalam kegiatan tersebut peserta tidak hanya mendapatkan buku, tetapi juga penjelasan langsung dari pemateri agar isi buku lebih mudah dipahami.
“Biar memahaminya lebih cepat dan harapannya buku yang dibawa pulang dapat dibaca oleh seluruh anggota keluarga para peserta,” katanya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Katedral Jakarta gelar 4 misa Kenaikan Yesus 2026, 2.300 umat hadir. Polisi amankan 860 gereja selama libur panjang.
Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bangun hubungan baru China-AS, tapi isu Taiwan jadi ancaman serius konflik global.
Leo/Daniel melaju ke perempat final Thailand Open 2026 usai kalahkan wakil China. Siap hadapi tuan rumah dengan permainan agresif.
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.